Tentang Subject

Ernie, apakah kamu menyadari apa yang sedang kita lakukan ini? Penonton film itu seperti sebuah organ raksasa, kau dan aku sedang memainkannya. Pada saat kita memencet nada yang ini maka akan mendapatkan reaksi yang begini, kemudian jika kita memainkan chord yang itu maka mereka akan bereaksi dengan cara yang begitu. Dan suatu hari, kita bahkan tidak tidak perlu membuat film -- ada elektroda-elektroda yang sudah diimplant dalam otak mereka, yang kita perlukan hanya menekan tombol yang berbeda dan mereka (penonton) akan bereaksi "oooh" dan "aaah", kita akan menakut-nakuti mereka dan membuat mereka tertawa. Bukankah itu sesuatu yang indah? (Spoto 1984:440)

Itu adalah cuplikan kata-kata Alfred Hitchcock pada Ernst Lehman, penulis skenarionya ketika mempersiapkan film “North by Northwest” (1959). Sinema secara tradisional sering dipandang sebagai medium yang voyeuristik, dimana selalu ada jarak antara layar dan penonton. Jarak dan diferensi ini sangat penting bagi pengkonstruksian subjektifitas, baik itu karakter-karakter yg terdapat dalam film maupun penontonnya. Konsep mengenai subjek dalam teori film itu dibangun melalui hasrat scopophilic (sudut pandang psikoanalisa). Dengan cara bagaimana subjek di dalam film dihadirkan dalam perbedaan sexualnya? Apa yang menjadi objek hasrat dari si subjek itu? Siapa yang melihat dan apa yang sedang dilihat? Dan apa artinya itu bagi penonton (subjek diluar film)? Bagaimana penonton diposisikan secara ideologis melalui mekanisme identifikasi?

Antara psikoanalisa (mata) dan schizoanalisa [rhizomatik] (Otak)

Slavoj Zizek Vs Gilles Deleuze

Keduanya sama-sama menyadari pentingnya merujuk pada intepretasi Katolik untuk membicarakan film-film nya Hitchcock, sebagaimana study yang pernah dilakukan oleh Eric Rohmer dan Claude Chabrol (Hitchcock: The First Forty-Four Films 1979-original 1957). Terdapat 3 perbedaan mendasar diantara keduanya:

Pertama, Zizek melihat bahwa Katolisisme Hitchcock sebagai pendalaman dari gagasan Jansenisme, inilah sesungguhnya karakteristik Hitchcockian itu. Bahwa manusia (subjek) itu penuh dosa, oleh karenanya tindakan penyelamatan (salvation) tak dapat dilakukan oleh dirinya sendiri sebagai pribadi, melainkan harus datang dari luar yaitu dari Tuhan, yang telah menentukan sesiapa yang akan diselamatkan dan sesiapa yang tidak (dikutuk). (Zizek: Everything you always wanted to know about Lacan, but where afraid to ask Hitchcock-1992). ini sepaham dengan analisa Rohmer dan Chabrol. Sementara itu menurut Deleuze itu gak ada urusannya dengan rasa bersalah si subjek atau Tuhan yang impossible dan mengerikan itu. Menurutnya Hitchcock tengah mengembangkan  konsepsi yang sangat kuat melalui relasi-relasi antara teori dan praktik. (Cinema 1:Movement-Image 1986).

Kedua, Baik Zizek maupun Deleuze sama-sama membahas tentang metafor yang diungkapkan Hitchcock untuk film-filmnya, yaitu “Tapissery” (pola-pola kain sulaman yang berulang dan berkait seperti jaringan). Zizek melihat ini dalam kaitan dengan “impossible Gaze”, pandangan Mata Tuhan yang tertangkap subjek (karakter dalam film) dalam jaring-jaring yang telah ditentukan. Subjek ini merepresentasikan subjek di luar film (penonton).  Penonton dapat beridentifikasi dengan pandangan karakter ini dan pada saat yang sama merasakan rasa bersalahnya dan ketakutan atas the Gaze of God. Meskipun begitu, penonton tak akan dapat beridentifikasi dengan Pandangan Tuhan. Dengan demikian menurut Zizek sinemanya Hitchcock memberikan representasi yang ultim tentang bagaimana subjek diluar sinema mengalami dunia. Subjek-subjek yang direpresentasikan itu berada dalam keterbatasan yang sama dengan penonton dalam kehidupan sehari-harinya. Sementara Deleuze melihat tapissery sebagai jaringan-jaringan relasi yang secara hati-hati dikembangkan oleh Hitchcock dengan tujuan untuk melibatkan penonton dalam tindakan-tidakan (mental). Jadi bukan persoalan mata atau pandangan. Kalau di dalam film-filmnya Hitchcock itu ada mata, maka mata itu adalah mata pikiran (Negotiation 1995). Penonton tidak mencari representasi-representasi dari kehidupan sehari-harinya, melainkan turut berpartisipasi dalam permainan relasi yang di ciptakan oleh Hitchcock.

Ketiga, ini menyangkut cita-cita Hitchcock tentang bagaimana caranya untuk mempengaruhi pikiran (penonton) secara langsung tanpa mediasi. Penekanan Zizek adalah pada aspek symptomatik dari fantasinya Hitchcock yang harus  berfungsi tanpa representasi demi membentuk inti psikotik ala Hitchcockian. Sementara  didalam realitasnya  masih diperlukan representasi yang menjadi semacam pertalian yang menghubungkan Hitchcock dan publiknya, antara subjek-subjek dalam film dan subjek-subjek diluar film. Pendeknya melihat imaji sebagai representasi, ini hal yang umum dalam teori film, dengan lain cara kembali ke Plato, Descartes  atau Kant dalam filsafat menyangkut gagasan tentang subjek. Dalam representasi, subjek diluar film (penonton) membentuk identitasnya dengan cara beridentifikasi dengan subjek dalam film, penonton mencontohnya sebagai model atas subjektifitasnya. Deleuze menyangkal pandangan ini seluruhnya, baik konsep tentang representasi maupun konsep tentang identifikasi sebagai permodelan dalam membentuk subjektifitas. Otak menurut Deleuze, baik sisi intelektual maupun emosionalnya berfungsi secara paralel terhadap tubuh (tidak hirarkis), hal ini dapat memberi pemahaman lebih tentang bagaimana kita mempersepsi diri kita sebagai subjek. Dengan demikian ungkapan Hitchcock tentang elektroda-elektroda yang diimplant kedalam otak bukanlah sesuatu yang symptomatik, melainkan refleksi filosofis tentang bagaimana imaji-imaji bekerja, apa efek-efek langsung dalam dirinya. Hal ini lebih berguna, memikirkan soal imaji-imaji Hitchcockian dari sisi Efek dan Afek yang di tempatkan dalam gerak melalui permainanan yang kompleks antara tubuh dan otak, antara persepsi dan memori.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s