Sekedar tips membaca buku sinemanya Deleuze

Memahami Deleuze dalam buku C1-C2

Apa itu imaji

Imaji yang dimaksud Deleuze itu berasal dari Bergson, Matter and Memory dan pengertiannya telah di expand sedemikian rupa sehingga sekalipun dirangkai dengan kata-kata yang memikat, tetap saja sulit untuk diakses.

Keseluruhan semesta ini interconnected, tetapi aspek-aspek individual, bagian apapun itu, merupakan imaji. Tubuh saya, atom, planet bumi, matahari, seekor anjing semua itu adalah imaji. Ini memang penggunaan kata yang aneh. Tapi kapanpun kita ketemu kata ini dalam kedua bukunya Deleuze dan mengalami kebingungan coba saja rubah menjadi kata kerja, “meng-imaji-kan” atau “peng-imaji-an”.  Maka kita akan ketemu padanan dalam bahasa indonesianya. misalnya: “Meng-imaji-kan-gerak”,”peng-Imaji-an-Persepsi” dst.

Katakan bahwa apapun yang terdapat didunia ini- gelas, piring-tai-tempe- merupakan peng-imaji-an dari sang gerak yang mana merupakan kosmos. Bahkan yang kita kira tak bergerak itupun, seperti meja, bangunan dll itu sesungguhnya terus-menerus bergerak meskipun dalam level quantum, sebagaimana bumi yang berputar tak terasa bersama kita didalamnya. Setiap entitas atau objek adalah irisan dari gerak semesta. Setiap irisan ini aktif, karena apa yang tampak dimata kita solid/padat pun sebenarnya sedang berproses, beraksi terus menerus, berulang-ulang sekalipun masih kelihatan sama, dan bermodifikasi ketika itu berubah menjadi sesuatu yang berbeda.–everything is always on the process of becomings–

Semua kata benda itu menjadi kata kerja.. sesuatu yang hijau itu “menghijau”, sebuah pohon itu mem-pohon, begitupun imaji menjadi “meng-imaji”.

Irisan dunia

Sebuah imaji adalah sebuah irisan, yang memberi kita irisan kosmos. Dan terdapat banyak cara untuk mengiris dunia. Tapi perbedaan dalam mengiris akan memberi kita tipe-tipe irisan yang berbeda juga.

Deleuze mengatakan bahwa sebuah IMAJI=MATERI YANG MENGALIR (flowing matter), sebuah imaji tak lain adalah irisan-dunia, irisan-kosmis, irisan-semesta. Namun perbedaan cara mengiris ini akan memberikan penekanan yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Beberapa cara pengirisan dunia juga merupakan salah satu cara untuk menggambarkan aspek2 semesta yang bergerak, inilah yang disebut sebagai “imaji-gerak”. Untuk memudahkannya sebut saja “peng-imaji-an-gerak”. Selanjutnya jika kita menekankan sisi perseptual dunia ketika megirisnya, maka kita memperoleh irisan-persepsi, jika penekanan irisan itu pada dimensi temporalnya kita akan meperoleh irisan-waktu…

Sinema-dunia, atau sinema sebagai dunia atau sinema sebagai irisan dunia

Kapanpun dunia diiris maka kita sebenarnya melakukan peng-imaji-an. Pada saat kita mengambil segenggam tanah, mengangkatnya dan mengisolasinya dari bagian tanah lainnya, maka kita sedang membingkai/framing segenggam tanah itu, memisahkannya dari latar belakang, dengan demikian juga meng-imaji-kannya. Setiap aspek semesta adalah refleksi-pembiasan, semua hal itu secara ultim saling berhubungan. Tanah yang saya genggam tak dapat eksis tanpa grafitasi dan daya-daya lain yang dikerahkan oleh sekitarnya.  Segenggam tanah yang kita pisahkan dari lingkungan sekitarnya telah di framing, seperti orang yang menggerakkan kamera  untuk memperlihatkan irisan-dunia pada penonton. Dengan begitu, sebenarnya ketika kita mengambil segenggam tanah dari tempatnya maka kita sedang mengerjakan sinema, kita mengiris dunia, meng-imaji-kan satu bagian dari keseluruhan kosmos.

Keseharian kita dalam kacamata Deleuzian sinema

Mula-mula adalah framing, sebuah bagian dari materi yang mengalir dalam semesta, kemudian mulai terhubung dengan yang lain-lain. Setiap saat dalam keseharian kita itu sebuah film, sebuah irisan, pembingkaian, dan terhubun dengan aspek-aspek dalam semesta. Dari depan laptop saya beranjak menuju halaman, pengaliran materi yang dihadirkan dalam pandangan saya berubah-ubah. Bergerak dari close-up layar laptop, menuju full-shot halaman rumah. Saya sedang mengiris-iris dunia dalam pengertian mata saya membingkai/framing, menyerupai apa yang diabstraksikan oleh kamera.

Kemudian saya masuk kedalam rumah duduk di depan sofa dan menyalakan tv. Saya melihat sebuah imaji dihadirkan dalam bingkai/frame yang lain (TV), maka frame di dalam frame disajikan didepan mata saya.Lalu TV itu menyajikan videoklip yang dibuat dari sudut pandang penonton yang sedang menyaksikan sebuah band. Saya sadar bahwa saya sedang melihat sebuah imaji yang dilihat dari perspektif orang lain. Maka saya sedang melihat sebuah imaji yang meng-imaji-kan persepsi, sebuah potongan dunia yang melalui relasi-relasinya dengan imaji-imaji yang lain menekankan tentang persepsi, perceptualness. Saya sedang melihat imaji-persepsi.

Kemudian saya ingin membuat kopi. Saya mulai menjerang air, dan melihat efek api mulai memberi pengaruh pada air, gelembung-gelembung mulai muncul merata ke seluruh panci, bagian-bagiannya dan keseluruhannya mulai berinteraksi, bernegosiasi, dan akhirnya mendidih, bergejolak, seiring dengan api yang memberi pengaruh pada air, merubah wujud air itu, membentuk keseluruhan yang baru, bagian-bagian yang baru, mendistorsinya. Persepsi atas panas api melalui air mencinptakan geliat, panci yang seperti menguap, sebuah pertimbangan atas sebuah aksi. Tapi antara persepsi dan aksi terdapat afeksi.  Air yang mulai mendidih di panci menyajikan imaji-afeksi di depan mata saya.

Bagaimanapun kita jangan berpikir bahwa setiap irisan itu hanya terdiri dari satu hal. Pandangan atas air yang mendidih yang tersaji sebagai imaji-afeksi itu juga secara jelas dilihat dari mata saya, dengan demikian juga menghadirkan diri saya, sekalipun tak langsung, perspektif saya pada dunia–Sebuah imaji-persepsi (mata saya) atas imaji-afeksi. Keduanya adalah imaji-gerak, karena keduanya merupakan imaji-imaji atas dunia yang menghadirkan sebuah transisi, sebuah gerak dalam dunia. Imaji apapun, secara ultim adalah imaji-gerak, sebuah imaji atas gerak dunia. Persepsi, afeksi, aksi adalah tipe-tipe sederhananya.

Pada saat air mulai mendidih, saya melihat uap muncul dari air. Saya bukan sekedar membingkai imaji-persepsi, atau imaji afeksi, saya juga melihat sebuah pemisahan, distingsi gas yang terpisah dari cairan, momen yang menggerakkan saya untuk bertindak, imaji-aksi. Saya mulai menuangkan air mendidih kedalam cangkir, saya melihat volume dalam cangkir yang dipenuhi cairan hitam, semua ini merupakan imaji-aksi dalam dunia.

Saya mencampurkan susu kental kedalam kopi. Saya melihat aliran susu mulai berbaur dengan kopi, terang dan gelap. Ada bagian dari susu itu yang berbaur cepat dan ada yang lambat. Perbedaan relatif tersebut menyajikan irisan-imaji yang menggambarkan suatu cara dimana beberapa proses perubahan yang satu belangsung lebih lama dari yang lain. ini imaji perubahan, diferensi, jalin-menjalin dengan durasi. Maka saya sekarang memperoleh imaji atas waktu, irisan dunia yang mengimajikan waktu. Inilah imaji-waktu.

Ahh…imaji-waktu ini mengingatkan saya akan salah satu adegan dari filmnya Godard. Saya membayangkan imaji dari film itu, terekonstruksi dalam mata pikiran saya. Maka saya memperoleh imaji-rekoleksi. lalu saya tersadar karena sengatan panas kopi dilidah saya. Ohhh iya saya diingatkan bahwa tak semua imaji itu visual, panas yang menyengat lidah saya merupakan kondensasi dari seluruh semesta kedalam sebuah sensasi tunggal, dibingkai dari perspektif yang tersedia dalam tubuh saya, dalam hal ini diwakili lidah saya.

Saya masih meredakan sengatan panas kopi dilidah, lalu terdengar kicau burung. Sebuah imaji-persepsi tersedia melalui telinga. Saya merasakan emosi yang meningkat sebagai respon terhadap kicau burung itu, saya merasakan gelombang emosi, sebuah imaji-afeksi, membuat saya mengingat memori tentang burung-burung lain di waktu yang lain, sebuah imaji-rekoleksi.

Deleuzian tipologi atau kristal semesta

…. lanjut…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s