Musuh yang tersembunyi

Musuh yang tersembunyi

Pada bagian akhir Cinema 2: The Time-Image, Deleuze menyatakan bahwa buku sinemanya adalah “buku logika”. Setelah berulangkali membaca dua bukunya, statemen ini nyangkut di otak sambil bertanya-tanya, apa implikasinya jika ini adalah buku logika? Hal yang dia tegaskan juga dalam buku “Negotiation” bahwa dia tak bermaksud membuat buku teori film.

Setelah melakukan detour bertahun-tahun membaca hampir semua tulisannya, sesungguhnya buku Cinema 1&2 adalah buku dia yang paling sistematik dan yang memuat formulasi lengkap pemikirannya. Bahwa tak banyak dari kalangan filsafat yang meminati buku ini saya yakin semata-mata karena mereka tak tertarik pada film. Sebaliknya dari kalangan film juga tak tertarik pada filsafat. Sementara menurut saya, buku ini sesungguhnya merupakan resource yang tak habis-habis untuk menggali sebanyak mungkin kemungkinan dalam sinema, baik teori mapun praktik.

Lalu apa sesungguhnya maksud Deleuze bahwa buku ini adalah buku logika? Sebab berbicara tentang logika sudah ada  “Science of Logic” nya Hegel yang merupakan pilar raksasa yang sulit di tandingi. lalu apakah memang ada maksud untuk menundukkan  buku itu? Meskipun tak sekalipun Deleuze menyebut nama Hegel dalam Cinema 1&2, dalam buku-buku yang lain pun sangat jarang, kalaupun ada, itu dalam kaitan menjawab pertanyaan, tidak panjang dan cenderung meragukan.

Jelas bahwa untuk memahami seorang pemikir tak cukup hanya dengan membaca seluruh karya-karyanya dan hanya berfokus pada apa yang dia katakan, perlu juga untuk mereka-reka mileu nya, melacak resourcenya, siapa-siapa saja yang mempengaruhinya. dari sana kita dapat menyingkap apa yang dikatakan Bakhtin sebagai “hidden polemic” atau adanya “musuh” yang tak dia sebutkan sebagai sparring — seperti Psikoanalisa Lacan yang sudah lebih dulu diringkus oleh Deleuze tanpa perlu menyebut nama. Untuk memahami seorang pemikir kita juga perlu untuk memahami formasi gesturenya. Dan bagi Deleuze, Hegelianism itu sesuatu yang krusial.

Menurut Harold Bloom dalam “A Map of Misreading”, untuk dapat lahir setiap author memiliki pengaruh utama yang wajib di singkirkan , seseorang yang pengaruhnya selalu menimbulkan kecemasan akan muncul dalam karya-karyanya, namun jika kita cermati itu akan terasa sebagai “symptomatic absence” .  Dan dalam kaitan dengan Deleuze “unnamed enemy” itu adalah Hegel….

Deduksi

Di buku C1:Movement-Image, Deleuze merumuskan 3 kategori imaji utama, Perception-image, affection-image, action-image yang berangkat dari Piercean logic, firstness, secondness, thirdness. Pierce itu Hegelian, tapi bukan itu maksudnya, ada semacam gerakan didalam buku itu yang menjadi semacam struktur kedua bukunya. Deleuze faktanya mengatakan bahwa kategori-kategori yang dia sebut itu di DEDUKSI satu dari yang lainnya. Jelasnya di bagian 2 chapter “The Recapitulation of Images and Signs” Cinema 2, bahwa di dalam semesta itu semua adalah “imaji-gerak” tetapi sebagian imaji-gerak itu juga imaji-persepsi, sebagian juga merupakan imaji-afeksi, terus berangkai sampai kita dapat menggapai “direct time-image” ; hyalosigns, chronosigns, dll. Yang menarik, menurut deleuze ini dihasilkan dari pendeduksian. masing-masing berasal dari yang ada sebelumnya, dan yang ada sebelumnya itu secara virtual memuat apa yang ada berikutnya.

Bukankah buku logikanya Hegel juga demikian? terkadang Hegel mengajak kita untuk memahami logika dari sebuah konsep itu harus memuat seluruh hal yang ada sebelumnya sebagai bagian-bagiannya. Dia memulai dari the logic of being, kemudian the logic of essence, dan masing-masing dapat dipakai untuk memahami dunia sebagai satu keseluruhan, tetapi dari satu sudut pandang yang partikular. Jadi apa yang ada sesudahnya memuat apa yang ada sebelumnya, hingga klimaksnya menjadi subjek-objek sejarah universal, sebutlah, sebuah KONSEP di dalam proses untuk memahami diri sebagai ROH….

disini Deleuze melakukan deduksi yang terbalik dg cara yang dilakukan Hegel….

The Power of the False

Pada bagian ketiga akhir buku C2, bagian dimana Deleuze mulai terasa ‘tidak’ sistematis, kadang non-linear yaitu ketika  menginvestigasi cinema of the body, mind, meaning, . Ini  untuk tujuan apa sebenarnya? Buku ini sebenarnya sudah selesai membahas hal-hal tersebut, ditilik dari konteks penggunaan imaji-gerak (body) dalam pre-war sinema dan imaji-waktu (mind) dalam post-war sinema serta kritik menyeluruhnya atas pendekatan linguistik-saussurian. Kenapa masih perlu bab rekapitulasi?

Ada momen transisi yang menjadi titik balik  yaitu ketika dia mulai membahas ‘POWER OF THE FALSE’. Sebelumnya Deleuze secara ketat dan sistematis membahas imaji-imaji sinema dalam kaitan dengan pencarian yang lebih truthful atas  dunia, baik itu dalam gerak dan tubuh (imaji-gerak), atau  dari sisi dalam pengalaman manusia melalui imaji-waktu. Tapi ketika mulai membahas ‘the power of the false’, mulai terasa bahwa tujuan sinema bukanlah untuk menegaskan apa itu truth, melainkan bahwa tujuan sinema itu untuk memproduksi dunia-dunia yang baru, cara mengada yang baru dan keseluruhan buku c1&c2  mengarahkan kita pada perkara ini, setelah membuat kita bekerja keras untuk mengurai seluruh paparan sebelumnya  hingga menuju krisis yang tergambar dalam sinema dan filsafat barat, sampailah kita pada “the power of the false’, Nietzschian insight.

Seluruh deskripsi setelah “the power of the false” itu menjadi semacam rangkuman atas apa-apa yang sebenarnya sudah selesai sebelumnya, namun, semua itu kemudian dibebaskan dari kehendaknya atas yang benar (truth). Setelah terbebasnya konvensi sensorial  imaji-gerak menuju imaji-waktu, maka pada transisi dimana imaji-waktu dibebaskan menuju “the Power of the False” menunjukkan bahwasanya subjektifitas itu tidak selalu berarti manusia. Jika dalam imaji-waktu itu apapun sudah diperlihatkan, maka pada transisi ini, kebertubuhan, berpikir, dan makna dapat diproduksi melalui bentuk-bentuk subjektifitas yang tidak selalu terikat pada permainan cogito cartesian. Fakta sebelumnya bahwa konvensi sensorial dari imaji-gerak telah terbebas menuju imaji-waktu, maka pada transisi ini, cogitolah  yang harus dibebaskan. Cogito menjadi inhuman, posthuman, yang mengajarkan pada kita bagaimana memunculkan subjek-objek sejarah yang melampaui individual human… The ‘Song of the Virtual’ sebagai subjek-objek sejarah namun melampaui subjek-objek itu sendiri . . .

Balik ke Hegel. Jelas bahwa tujuan Deleuze itu memberi kita subjek-objek sejarah, tetapi yang posthuman. Tentu Hegel juga demikian, yang disebut Konsep itu kan transpersonal, bahkan melampaui manusia. Lalu dimana perbedaan antara keduanya?

Tampaknya ini berbeda seluruhnya. Tujuan Hegel adalah memperlihatkan bahwa the “real is rational”, bagi Deleuze the “real is virtual”. Menurut Hegel, semua sudah sebagaimana adanya, Spirit  akan menemukan others yang bisa memainkan peran yang sama. Muatan-muatan yang kontingen yang membantu spirit untuk mencapai tujuannya itu merupakan rencana universalnya. Sebagaimana yang selalu ditegaskan oleh Zizek, “the Spirit is a Bone”. Tetapi hadirnya kesadaran atas subjek-objek sejarah tidak memunculkan hal-hal yang baru, kuasa untuk menghasilkan yang baru, KONSEP bagi Hegel itu tidak lebih dari penyingkapan (unfolding) atas apa yang sudah ada sebagaimana adanya. Bagi Deleuze, ini juga masalahnya, hadirnya kesadaran atas subjek-objek sejarah (ini pake bahasa hegelian…:) ) sederhananya juga penyingkapan  atas apa yang sudah ada sebagaimana adanya, tapi, yang sudah ada sebagaimana adanya ini adalah “pure difference”, yang virtual. Seluruh momen sejarah dan logika yang menyertainya, adalah untuk memberi jalan bagi yang virtual untuk hadir dalam kesadaran, dengan kata lain, di dalam dan melalui limited humans yang memasukinya. Bukan sekedar memberi jalan bagi munculnya yang sama (the same), tapi memberi jalan untuk memunculkan pure difference.

Katakanlah projeknya Deleuze ini sangat hegelian, namun dengan diferensi yang krusial, yang mana itu adalah diferensi itu sendiri. Para Saga adalah limited humans nya Hegel, sementara para seniman/filmmaker itu limited humans nya Deleuze. Saga nya Hegel memahami dunia, Seniman nya Deleuze tak memahami dunia, namun menciptakannya. Dan seniman-seniman ini tak selalu “human”, namun mengalir di dalam dan melalui humans, melampaui sekaligus bersama di dalam humans. Deleuze berhasrat untuk melahirkan seniman-seniman yang mana sisi human-nya hanyalah salah satu bagiannya. Dan karena hal inilah Deleuze mengatakan :

“…Beri aku sebuah tubuh. Kita butuh tubuh baru untuk sang seniman ini, tubuh yang bagian-bagiannya diciptakan dan diukir dari apa-apa yang ada dalam semesta. Tubuh ini juga butuh pikiran, sebuah pikiran yang dalam selubungnya dapat mempertautkan “sisi yang paling dalam dan sisi yang paling luar…”. 

Bagi Hegel “the Spirit is a Bone”, bagi Deleuze “the Brain is the Screen”. Film telah mengajarkan kita bagaimana berpikir, dan bagaimana berpikir melampaui sang manusia. Memberi kita Brain-screen, yang melaluinya kita melihat apa-apa yang malampui fakta bahwa subjek adalah objek dan objek adalah subjek, pikiran adalah dunia dan dunia adalah pikiran dan hal tersebut tak selalu human yang terikat dalam permainan kecil cogito. Dan diatas semua ini, kita membutuhkan kolektifitas, politik, “Masyarakat yang kelak ada” (people yet to come), yang terdiri dari brains-bodies seniman-seniman  supra-human ini. Masyarakat yang kemudian perlu untuk belajar membaca kembali dunia, belajar mengisahkan ceritanya sendiri, melahirkan dirinya sendiri dengan cara melahirkan bahasa dan kisahnya sendiri.

Inilah yang dilahirkan oleh  ” the powers of the false” : tubuh baru, pikiran dan otaknya yang baru, masyarakat dan bahasanya yang baru.

Barangkali disinilah Deleuze ‘kehilangan’ beberapa kecakapan sistematiknya, menjelang akhir bukunya. Bahwa dia telah memberi kita pembacaan ganda atas logika Hegel. Deleuze adalah cermin Hegel pada setiap langkahnya, untuk kemudian meledakkannya dari sisi dalam. Deleuze memberi kita cermin-ganda atas logika Hegel, namun yang satu adalah dirinya sendiri, imaji langsung atas waktu dimana yang aktual dan yang virtual berkelindan. Deleuze adalah imaji-kristal, tak seperti Hegel, imaji-kristal itu tidak self-contained. Deleuze adalah Fellini nya filsafat, yang memberi kita proses formasi tiada akhir, benih-benih-kristal yang akan selalu tumbuh beda.

Melampaui manusia, melampaui cogito, melampaui subjek

Telah kita pahami perpindahan keterpusatan manusia dalam projeknya Hegel, disatu sisi itu transpersonal, disisi lain itu secara supreme manusia, all too human. Pada terma-terma investigasinya yang adalah atas subjek dan objek, ‘in-itself’ dan ‘for-itself’. Terma-terma ini bukan semata-mata konten projeknya, namun juga penjabaran atas bentuknya. Sebaliknya strukturnya Deleuze adalah aktual dan virtual, dan diferensi, yang maksudnya adalah diferensi di dalam dunia. Pada sisi akhir ini mari kita kembali ke awal, bukan pada imaji atas subjek-objek manusia yang diproyeksikan kedalam ukuran kosmos yang hadir pada kesadaran, melainkan atas virtual-aktual yang hadir untuk mengembangkan dirinya sendiri. Ini akan memberi kita jalan untuk melihat kembali bagaimana Deleuze menstrukturkan ‘deduksi-deduksi’ diantara imaji-imaji pada awal-awal bukunya. Disatu sisi kita melihat evolusi abstrak dari firstness menuju secondness menuju thirdness, merangkum struktur triadiknya Pierce, ini adalah apa yang dia sebut sebuah proses “cinta yang evolusioner”. Memang Pierce sendiri mengambil logikanya Hegel, dan faktanya struktur ini melampaui persepsi, afeksi, aksi, dst… yang  menstrukturkan gerak-gerak tersebut. Dalam buku sinema secara murni kita melihat gerak yang LOGIS dari ujung yang satu menuju awal yang berikutnya, dan persepsi, dan afeksi, dan aksi..dan…dan.dan setererusnya… yang merupakan permutasi potensial dimana yang virtual telah diinkarnasikan dalam dunia. Tidak ada itu “for-itself / in-itself”, yang pendasaran subjek/objek nya disini menstrukturkan deduksi-deduksi. Deduksi-deduksinya Deleuze itu logis, melampaui Hegel, diluar upaya Hegel  untuk melampaui anthropomorphisme nya sendiri, terma-terma deduksinya tetap saja manusia, dari satu sisi menuju sisi yang lainnya. Tetapi Deleuze, lewat pengaruh Pierce, menyempurnakan apa yang tak sanggup dilakukan Hegel.

Dari perspektif Hegel tentu bukan bukunya Deleuze sejarah yang akan hadir..hehehe, kita bisa menyebutnya apa yaa.. kalau bukan ‘kesadaran’ (?) atas semesta yang itu artinya juga atas manusia.  Tampaknya evolusinya  sudah mulai dari gerak materi, kemudian kemampuan untuk mempersepsi, kemudian proses pada basic level, kemudian bereaksi, kemudian mengingat,  kemudian melahirkan kultur, bahasa dan kadang-kadang self-liberation. Buku sinemanya deleuze, faktanya juga merupakan sejarah universal semesta yang disajikan pada kita melalui buku film. Buku yang menggandakan sekaligus menyingkirkan logikanya Hegel. Bahkan hingga detil-detil nya, Deleuze terus menempatkan sparing partnernya ini dalam pandangan. Di permukaan sepertinya itu Lacan, namun pertaruhannya rupanya lebih dalam. Dia merasa perlu membunuh bapaknya, hanya dengan cara itu dia bisa melahirkan dirinya sendiri, dan bapaknya itu ternyata bernama Hegel.

Logika yang membebaskan

Buku sinemanya Deleuze adalah logika untuk jaman kita ini. Sebuah logika taksonomis atas yang virtual, jika kita mampu menyingkapnya, dari perspektif kehidupan di bumi kita sekarang ini, belajar dari bagaimana sinema mengajarkan pada kita untuk melihat dunia. Apa itu sinema jika bukan ‘kerangka’ yang memberi jalan bagi spirit ini untuk melahirkan dirinya sendiri, sesuatu yang kontingen dan memberi keniscayaan atas yang baru untuk bersinar di setiap sisinya? Ini bukan logika yang statis, ini adalah logika yang membebaskan.

Memahami buku sinemanya Deleuze ini barangkali dapat membantu kita untuk memahami pertanyaan Nietzsche: how does one give birth to a dancing star?   Mari kita berharap pada Deleuze bagaimana caranya, seraya tetap belajar pada kecemasannya akan  disolusi, sebab jika kita terpeleset maka yang akan muncul adalah  the body without organs…

Deleuze mengajarkan pada kita bagaimana kita membebaskan diri sendiri dari batas-batas keniscayaan, dari batas-batas logika, batas-batas tubuh, cogito, dan batas-batas bahasa. Namun semua ini tak cukup hanya dengan kata-kata, kita juga harus mengerjakannya…

(Sekedar rangkuman untuk mengobati gelisah)