Sinema dan Pikiran

Sinema dan Pikiran

 

“Dulu ketika saya masih baru jadi mahasiswa film unyu-unyu, kalo habis nonton film-film Eropa ‘sulit’ atau film-film yang melepaskan ketergantungan naratif dan kewajiban-kewajiban representasionalnya, saya sering pusing dan gak bisa nangkep apa maksudnya. Trus nanya-nanya sama senior-senior, gimana sih caranya nonton supaya gak pusing? Bermacam-macam jawaban yang saya peroleh; “Minum Bo***x (salah satu merek obat sakit kepala) sebelum nonton…..!”. “Belajar dulu yang bener, gak usah nonton film yang aneh-aneh dulu…”. Dan lain-lain….,  tapi jawaban yang saya ikuti betul adalah; “kalo lagi nonton film susah kayak gitu itu ya harus mikir!…pake otak!…supaya bisa paham….!”. Nasihat itu saya tangkap secara literal dan dalam kesempatan yang lain saya berusaha keras untuk nonton sambil mikir, yang terjadi adalah  saya malah makin pusing, bahkan sampai mual hehehe….”–(dikutip dari “ingatan” 90an awal, masa dimana Teater Tertutup-TIM rajin menyelenggarakn pekan sinema dunia)

“Sinema tidak memberi  kita imaji dimana gerak ditambahkan, melainkan sertamerta memberi kita imaji-gerak” –(Deleuze, Cinema 1-Movement-Image)

Pada saat kita mengamati lukisan atau karya fotografi, pikiran diberi kesempatan dan jarak refleksif untuk mengkritisi, melacak, mengevaluasi apa sesungguhnya yang ingin disampaikan oleh sang seniman, baik melalui komposisi, warna, garis, bidang, objek dan lain sebagainya. Namun bagaimana halnya ketika kita menonton film? Apakah film memberi kita kesempatan untuk berpikir pada saat kita melihat dan mendengar? Apakah ditengah konstruksi imaji yang berlangsung kita memiliki waktu untuk berefleksi? Atau apakah pikiran kita dapat masuk kedalam imaji pandang-dengar yang sedang berproses, pada saat di layar memperlihatkan pergantian-pergantian yang ketat? Bukankah hal itu baru bisa kita lakukan sesudahnya, ketika keping-keping gagasan dari sebagian atau keseluruhan film telah menemukan bentuknya?

Kilas ingatan di atas sekurang-kurangnya memberi latar pembedaan bahwa kerja otak itu otomatis,  sejalan dengan pengaliran imaji pandang-dengar yang dihasilkan sinema (gerak-otomatis), sementara berpikir itu reflektif, ada jeda dari hal-hal  perseptual, yang ditangkap indra, sebelum itu menjadi sesuatu yang kita sadari. Pantaslah jika saya makin pusing, sebab nonton sambil berpikir itu sesuatu yang berlawanan dengan kerja otak. Nonton “pake otak” itu seratus persen betul, tapi nonton sambil “berpikir” itu nanti dulu… hehehe…  Dan menurut saya, menonton film2 sulit itu ternyata harus relaks, biarkan otak bekerja secara alamiah, tunda ‘berpikir’, tunda penilaian, tunda referensi, lihat dan dengar bersama-sama dengan apa yang terjadi di layar, sebanyak yang diperlihatkan dan diperdengarkan.

 

 

#nomadicinema

Memori

Close shot dua tubuh  telanjang, sepertinya berpelukan. Kulitnya berilau, bertabur butiran-butiran seperti pasir. Lambat laun permukaan kulit itu menjadi jelas. Terdengar suara seorang lelaki dalam bahasa Perancis namun beraksen Jepang ; “Kamu tak melihat apa-apa di Hiroshima, tak melihat apa-apa…”. Terdengar sahutan suara perempuan juga berbicara bahasa Perancis dengan aksen perancis ; “Saya melihat semuanya di Hiroshima…”. Perempuan itu menyebut ‘rumah sakit’ kemudian gambar beralih memperlihatkan lorong sebuah rumah sakit, kamera bergerak menyusuri lorong, pasien-pasien perempuan Jepang berdiri dipintu kamar, kamera masuk ke dalam kamar memperlihatkan juga pasien-pasien perempuan jepang di atas ranjang…. (sepenggal opening ‘Hiroshima mon Amour’-Alain Resnais-1959)

 

Apakah ini berarti bahwa perempuan itu memang telah melihat rumah sakit? atau hanya penonton film yang melihatnya? Apakah adegan di rumah sakit dan penggambaran yang diperlihatkan itu sudah memadai untuk mendasari klaim bahwa si perempuan telah melihat ‘semuanya’ di Hiroshima? Bukankah maksud si Lelaki bahwa secara literal perempuan itu tak melihat apa-apa? atau bahwa apa yang si perempuan lakukan itu tak dapat diperhitungkan sebagai ‘melihat’? Apakah si perempuan tak sependapat dengan si lelaki atau gagal untuk memahami apa yang disampaikan si Lelaki bahwa dirinya tak melihat apa-apa?

 

Disitu terdapat dua karakter yang memiliki memorinya sendiri-sendiri, asing satu dengan lainnya, masing-masing memiliki wilayah masa lalu yang tak dapat diperbandingkan. Si lelaki Jepang tak memberi jalan bagi si Perempuan masuk ke dalam wilayah memorinya, sementara si Perempuan pada titik-titik tertentu menghendaki dan meyakinkan si Lelaki untuk masuk ke dalam wilayahnya.  Bukankah ini sesungguhnya suatu jalan bagi keduanya untuk melupakan memori masing-masing dan mulai menciptakan sebuah memori yang menjadi milik berdua? Dimana seakan-akan memori ini telah menjadi sebuah ‘dunia’ sendiri, yang terlepas dari pribadi-pribadi yang memilikinya?

 

Apakah kita sanggup menangkap memori dengan cara seperti ini? ketika kita mulai ragu atas apa yang kita lihat dan dengar ? Tak ada lelucon, tak ada ironi disana. Kita hanya dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak kita temukan jawabnya….

 

#nomadeleuziancinema