Memori

Close shot dua tubuh  telanjang, sepertinya berpelukan. Kulitnya berilau, bertabur butiran-butiran seperti pasir. Lambat laun permukaan kulit itu menjadi jelas. Terdengar suara seorang lelaki dalam bahasa Perancis namun beraksen Jepang ; “Kamu tak melihat apa-apa di Hiroshima, tak melihat apa-apa…”. Terdengar sahutan suara perempuan juga berbicara bahasa Perancis dengan aksen perancis ; “Saya melihat semuanya di Hiroshima…”. Perempuan itu menyebut ‘rumah sakit’ kemudian gambar beralih memperlihatkan lorong sebuah rumah sakit, kamera bergerak menyusuri lorong, pasien-pasien perempuan Jepang berdiri dipintu kamar, kamera masuk ke dalam kamar memperlihatkan juga pasien-pasien perempuan jepang di atas ranjang…. (sepenggal opening ‘Hiroshima mon Amour’-Alain Resnais-1959)

 

Apakah ini berarti bahwa perempuan itu memang telah melihat rumah sakit? atau hanya penonton film yang melihatnya? Apakah adegan di rumah sakit dan penggambaran yang diperlihatkan itu sudah memadai untuk mendasari klaim bahwa si perempuan telah melihat ‘semuanya’ di Hiroshima? Bukankah maksud si Lelaki bahwa secara literal perempuan itu tak melihat apa-apa? atau bahwa apa yang si perempuan lakukan itu tak dapat diperhitungkan sebagai ‘melihat’? Apakah si perempuan tak sependapat dengan si lelaki atau gagal untuk memahami apa yang disampaikan si Lelaki bahwa dirinya tak melihat apa-apa?

 

Disitu terdapat dua karakter yang memiliki memorinya sendiri-sendiri, asing satu dengan lainnya, masing-masing memiliki wilayah masa lalu yang tak dapat diperbandingkan. Si lelaki Jepang tak memberi jalan bagi si Perempuan masuk ke dalam wilayah memorinya, sementara si Perempuan pada titik-titik tertentu menghendaki dan meyakinkan si Lelaki untuk masuk ke dalam wilayahnya.  Bukankah ini sesungguhnya suatu jalan bagi keduanya untuk melupakan memori masing-masing dan mulai menciptakan sebuah memori yang menjadi milik berdua? Dimana seakan-akan memori ini telah menjadi sebuah ‘dunia’ sendiri, yang terlepas dari pribadi-pribadi yang memilikinya?

 

Apakah kita sanggup menangkap memori dengan cara seperti ini? ketika kita mulai ragu atas apa yang kita lihat dan dengar ? Tak ada lelucon, tak ada ironi disana. Kita hanya dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak kita temukan jawabnya….

 

#nomadeleuziancinema

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s