Catatan untuk Emak

Emak, Francis Bacon dan Becoming-animal

Catatan-catatan kecil untuk mengenang Emak di penghujung 2012.

Sekitar penghujung 1990an menjelang 2000, tersebutlah Emak (almh.) yang masyhur dikalangan mahasiswa IKJ, seniman-seniman TIM dan orang-orang yang sering nongkrong dibawah banner depan Taman Ismail Marzuki. Penjual Rokok, minuman ringan dan bir di gerobak pinggir jalan Cikini raya. Beliau hidup sendiri bersama anjing-anjing dan kucing-kucing yang disayanginya sepenuh hati.  Seperti kebiasaan kami, hampir setiap malam di tahum-tahun itu adalah nongkrong, nge-bir sambil main domino disana, Pink Floyd mengalun dari mini-compo di gerobak sate madura “Romli”. Hujan mulai turun rintik-rintik, kamipun berdiri merapat ke meja berpayung untuk berlindung sambil tetap bermain domino. Terdengar lamat-lamat suara Emak memanggil-manggil… ”Rinooo….Rino…Rinooo…..” itu adalah nama anak anjing jantan milik Emak selain Rina, Rini, serta anjing dewasa Leti dan Bobby.  Setelah lelah mencari-cari Rino dan tak ketemu emak kembali ke gerobaknya, ketika melewati meja kami tiba-tiba Emak marah (dengan bahasa Tegal); “Dasar kalian semua anjing…!! anaknya emak dicari-cari kemana-mana gak ada ternyata ada disitu kalian pada gak ngasih tau…!!”. Ternyata Rino, anjingnya berlindung dibawah meja tempat kami bermain domino. Jadilah kami anjing semua, anjing yang berdiri dengan 2 kaki dan bermoncong, sementara Rino adalah anaknya emak, remaja yang berjalan dengan empat kaki….hahaha.  (True story-Dikutip dari “Ingatan”)

Bagi emak wajah-wajah kami semua pada saat itu tak tampak, imperceptible. Wajah-wajah kami menjadi anjing, becoming-animal. Seperti Francis Bacon yang gemar mendeformasi wajah, karya-karya lukisnya biasanya hanya terdiri dari Figur tunggal, berkepala tapi wajah ‘dilenyapkan’ atau menyerupai binatang atau di deformasi (melalui scrubbing atau brushing) atau di dislokasi. Jika manusia boleh memilih takdirnya maka wajahlah atau perwajahanlah yang hendak disingkirkan supaya dia menjadi imperceptible, ini adalah ‘the animal spirit of man’.

“….. Jika kita lihat lukisan Head 1-1948 dan Head 2-1949, keduanya setengah-hewan, setengah manusia, seolah-olah morphing antar bentuk. Bagi  Bacon tak ada beda antara keduanya. Manusia itu binatang: primal dan konfrontatif. Tampak juga dalam karya dia figur Paus yang sedang menjerit. Dia selalu melihat binatang dalam diri manusia, bahkan di dalam diri seorang  Uskup Agung. Ada ambiguitas itu: kita tidak tahu apakah sedang menyaksikan jeritan sakit, kemarahan atau melepaskan. ”

(Michael Peppiatt, Great British Bacon, Radio Times, 19-25 march, 2005).

“Daging segar adalah kehidupan!……… Ham, babi, lidah, daging iga sapi di tempat penjual daging, semua kematian itu, saya dapati  sangat indah. Dan itu semua untuk dijual —luar biasa surealistik! Saya sering membayangkan sebaliknya, seandainya manusia menjadi binatang……. saya bayangkan manusialah yang tergantung di toko daging, sementara yang beli adalah Hyena yang berdandan mengenakan mantel bulu. Kaki-kaki manusia digantung-gantung, atau dipotong-potong untuk direbus atau dijadikan kebab.”

(Francis Bacon, Exclusive interview with Francis Giacobetti, 1991-2, The Art Newspaper, June 2003)

Emak itu ‘setara’ dengan Francis Bacon by nature, tanpa perlu baca buku, liat pameran lukisan, nonton film, bahkan beliau tak bisa baca tulis kecuali angka dan berhitung, buat ngitung utang mahasiswa hehehe   …she’s my legend… J

 

Emak dan Becoming-Animal Part II

“Art is continually haunted by the animal.”  –What is Philosophy? -Gilles Deleuze &  Felix Guattari.

 

Pada suatu malam yang lain, menjelang 2000

Percakapan emak dan seorang kawan:

“Dodo…Kamu udah punya pacar…?”

“Belum Mak….”

“Mau pacaran sama anaknya Emak?”

“Anaknya emak yang mana….?”

“itu…si Rini….!”  sambil menunjuk anjingnya dan terkekeh…

 

Pada malam yang lain

“Panji… apakah anjing seusia Rina itu bisa hamil?”

“Wah…gak tau ya Mak…bisa aja kali…, emang kenapa Mak?”

“Rina itu sudah menstruasi soalnya, jadinya Emak takut… soalnya si Rino itu suka ‘campur’ sama Rina…”

Sayapun terbahak….

Rina, Rini, Rino itu saudara kandung, rupanya Emak cemas kalo ‘anak-anak’ nya itu incest.

Saya tidak ingin memandang peristiwa-peristiwa ini dari sudut melo kesepian seseorang atau memasukan nilai atasnya, melainkan bahwa ekspresi-ekspresi yang bebas dari orang-orang yang sederhana itu sungguh luar biasa. Sesuatu yang sebanding dengan proses kreatif penciptaan seorang seniman. Sebagaimana yang diungkapkan  Deleuze dalam buku Kafka: Toward Minor Literature bahwa hal semacam itu merupakan  pergulatan dan penemuan atau ‘line of escape’ dari kejumudan dan banalitas kehidupan sehari-hari sebagaimana yang terjadi pada Francis Bacon (senirupa), Franz kafka (sastra), Luis Bunuel, David Cronenberg (sinema) atau bahkan becoming-human dalam karakter-karakter binatangnya Disney (animasi) .

Becoming-animal, becoming-human atau becoming-other disini  tidak untuk dipahami sebagai metafor, simbolism atau alegori (linguistik), atau bagian dari hantu rasa bersalah–guilt (psikoanalisa). Terma ini untuk dipahami sebagaimana adanya, sebagai ‘map of intensities’ yang melenyapkan dualitas subjek yang dinyatakannya. Sebuah proses deteritorialisasi perlahan yang meruntuhkan kekuasaan signifier dan membatalkan representasi, menyingkap apa-apa yang selama ini dianggap berada di sisi dalam padahal semua itu terbentang di permukaan dalam bentuknya yang paling naif berupa intensitas-intensitas. Sesuatu yang tak segera tampak karena tertimbun oleh sengkarut upaya manusia untuk mencari makna dan nilai  kehidupan. Apa yang menurut Ozu; Kehidupan adalah air yang bening, manusialah yang membuatnya keruh.

 

#nomadic70

 

Emak dan Robert Bresson

Telinga ‘melihat’ lebih jauh dari pada mata.

Tengah malam dibawah banner depan TIM setelah hujan, jalanan basah. Emak tiduran dibangku panjang, dekat gerobak jualannya, bangku itu lebarnya tak lebih lebar dari tubuhnya. Kami bermain domino, Sade Ado melantunkan Jezebel dari radio di geronak. Tiba-tiba terdengar suara roda dari mobil yang dipaksa berhenti mendadak… ciiiiiiit….disusul suara kaing anjing . Sontak Emak bangun dan menjerit histeris “RINA..! RINI ! RINO!…” Sambil berlari ke arah jalan. Tak berapa lama Emak kembali sambil menggendong Rini,, sementara dua anjing lainnya Rina dan Rino berlompatan serta kucing-kucingnya turut mengiring jalan Emak, seolah turut sedih dengan apa yg menimpa Rini. (True story, Dikutip dari Ingatan menjelang 2000)

Robert Bresson dalam ‘Note on Sound’ menyatakan bahwa dalam sinema suara bukanlah sekedar pelengkap visual. Suara juga bukan untuk menutupi kelemahan visual, atau menjelas-jelaskan apa yang divisualkan. Visual menggambarkan sementara suara mengimajinasikan. Suara memperluas frame, mengarahkan penonton untuk mengimajinasikan apa yang tak diperlihatkan di dalam frame. Dari posisi tidurnya yang tak menghadap ke jalan Emak tak tahu dimana posisi Rini tertabrak, namun suara decit rem dan kaing anjing ‘ ‘memaksanya’ mengimajinasikan apa yang terjadi, apa yang tak dilihatnya. Dan seringkali apa yang di imajinasikan lebih menusuk perasaan dibanding apa yang terlihat.

#nomadic70

Parigi, Akhir Desember 2012

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s