Europe Film Award 2003

Europe Film Award

Cinema in diversity

Bahan diskusi

TUK 31/2/04

oleh Panji

 

I

Tujuh film nominasi EFA  yang dipilih untuk diputar di sini, memiliki kekuatan dan  karakteristiknya masing-masing. Yang menarik dari festival ini adalah bahwa beragam ‘jenis’ film berkompetisi dalam satu forum. Terutama, yang tampak sekali perbedaannya adalah In This World, sebuah film digital dengan pendekatan semi-dokumenter (sekalipun tidak memperoleh award) dan Dogville, yang menggunakan ‘flat stage’ dengan pemetaan menyerupai panggung (Best Director).

Tiga Tipe

Sebelum masuk dalam perkara-perkara intrinsik, tujuh film ini terbagi dalam tiga perbedaaan yang mendasar;

In This World, Dirty Pretty Things, Goodbye Lenin,  merupakan film-film dengan latar belakang isu-isu social-politik. Noi Albinoi, Swimming Pool, My Life Without Me, merupakan film dengan tema-tema Individual. Sementara Dogville merupakan sebuah pengecualian yang mengedepankan eksplorasi atas kemungkinan-kemungkinan sinema. Menawarkan suatu keunikan yang sangat khas yang barangkali sulit diterima umum sebagai sebuah ‘film’ atau pertunjukan teater.

 

II

In This World

Dirty Pretty Things

Goodbye Lenin

Saya membayangkan sedang melakukan pengusutan atas tetangga saya. Dia bukan “orang sini”, Darimana mana dia berasal? Apa yang dia lalukan di sini atau apa tujuannya di negara saya?  Apa yang terjadi di tempatnya berasal, adakah sesuatu yang memaksanya pergi? Kenapa? (Dirty Pretty Things & In This World). Kemudian saya membayangkan sebaliknya. Saya dan tetangga saya, lahir di kota yang sama, dari nenek moyang yang sama. Tapi saya dan dia sulit sekali bertemu, ada tembok yang memisahkan saya dan dia, dan saya telah terbiasa membayangkan apa yang terjadi dibalik sana. kemudian  jika tembok itu runtuh, sudah siapkah saya melihat wajah yang sesungguhnya ? (Goodbye Lenin). Kedua jenis pertanyaan ini bukanlah upaya untuk “menilai” tetangga saya, atau suatu upaya untuk menilai “yang lain”, melainkan upaya untuk menguak kegelapan sejarah, atau sejarah yang digelapkan oleh tendensi ilmiah ideologi, politik dan kekuasaan. Yang pada akhirnya membentuk tetangga pertama saya dan tetangga kedua saya .

 

III

Dengan caranya sendiri-sendiri tiga film ini berusaha menempatkan sebuah waktu yang tercungkil dari peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di penghujung abad 20. In This World dengan pendekatan semi dokumenter (perjalanan dua orang pengungsi Afganistan menuju London). Dirty Pretty Things (tentang dua imigran gelap di London dalam perjuangannya memperoleh ID dan paspor) dan Goodbye Lenin (berlatar belakang runtuhnya tembok Berlin, Menceritakan upaya seorang anak demi menjaga ibunya (sebuah keluarga jerman timur) yang koma  pada saat Jerman bersatu dan tersadar 8 bulan kemudian setelah segala sesuatunya berubah)  dengan pendekatan drama/feature. Tiga film ini  memiliki kesamaan pada ruang-tema dengan latar belakang isu-isu social  yang di akibatkan oleh perubahan peta politik local/global.

Sekalipun latar belakang politik sangat kental dalam ketiga film ini, tak dapat dikatakan bahwa para pembuat film ini hendak menyuarakan kebenaran  politik tertentu. Lebih daripada itu, tampak sekali keinginan untuk terlibat dan memahami secara lebih baik dari sudut pandang para korban, menyingkapkan sejarah keberadaan mereka dalam pencarian negeri harapan, demi suatu masa depan yang ‘lebih baik’. (In This World, Dirty Pretty Things). Atau tidak hendak secara hitam-putih menyatakan  bahwa kapitalisme lebih baik di banding socialism (Goodbye Lenin).

Estetik.

Disamping kekuatan pada kesatuan tema dan penuturan dalam ketiga film ini, rasanya In this World,menawarkan sesuatu yang sedikit berbeda dari dua lainnya. Perkembangan teknologi film digital dengan segala kekurangan dan kelebihannya , telah menciptakan pendekatan visual yang khas dan memberi kesan yang autentik; night shot, pada saat Enayatullah dan Jamal melintasi daerah bersalju di Turki, dengan pencahayaan yang minim dan ‘apa adanya’ Subjek tampil sekelebatan, memberi gambaran yang ‘real’ atas suatu peristiwa. Selain itu sosoknya yang kecil dan praktis, menipiskan jarak antara perekam (tool) dan subjek yang direkam. Hal ini juga memudahkan untuk menempatkan subjek dalam suatu peristiwa konkret.

Terpilihnya film ini menjadi nominasi EFA, yang turut bersaing dengan film-film seluloid, menjadi hal yang patut dicatat. Film Digital dalam banyak festival besar selalu di tempatkan dalam event yang terpisah, dan dianggap tidak ‘setara’. Film digital bukanlah hal baru, sudah banyak yang melakukannya sepuluh tahun terakhir, meskipun selalu ada anggapan bahwa film digital  adalah bagi orang yang masih belajar membuat film.

 

V

Swimming Pool

Noi Albinoi

My Live Without Me

Tak banyak yang dapat di bicarakan dari film-film yang bertema individual, juga tidak ada hal-hal baru yang di tawarkan dari ketiga film ini. Yang menarik mungkin  sudut pemilihan tema yang meruncing pada suatu moment dari kehidupan karakter dalam film. Swimming Pool berkisah tentang seorang penulis novel fiksi-detektif (Sarah Molton) tengah menulis novel barunya di sebuah villa milik Publishernya dimana kemudian dia terlibat petualangan bersama Julie (anak Publishernya) yang menjadi inspirasi bagi novelnya. Film ini Disajikan dengan pendekatan ‘Hitchcockian’, namun tentu ketegangan yang di bangun berbeda dengan sebagaimana biasanya film thriller yang kita tonton di bioskop 21.

Film ini merupakan film berbahasa Inggris pertama dan merupakan yang paling santun dari Francois Ozon. Karena dalam film-film sebelumnya Ozon banyak mengeksplorasi Sex dan Kekerasan (nymphomaniac) dengan cerita seputar kehidupan gay (Sitcom 1998, See The Sea, 1997, The Little Death 1995, Water drops on The Burning Rocks 1999).

My Life Without Me dan Noi Albinoi merupakan debut baru  dari dua sutradara muda, kelemahannya muncul dalam penampilan karakter yang satu dimensi. Berangkat dari suatu gagasan cukup unik, Seorang ibu muda (Ann) yang hendak meringkas apa yang hendak dilakukan dalam sepuluh perbuatan, ketika dia menyadari usianya tinggal dua bulan. Salah satu nya adalah ‘merasakan’ lelaki lain, mulanya dia hanya ingin mengejar satu dari sepuluh hal yang telah dia buat daftarnya, namun akhirnya mereka saling jatuh cinta.. sampai disini cerita bergulir menjadi seperti roman picisan.

Sementara Noi Albinoi, berkisah tentang remaja yang cerdas namun tidak dapat mengaaktualisasikan kecerdasannya, mengingat bahwa dia tinggal di sebuah kota kecil di Iceland, sebuah tempat yang setiap harinya di selimuti salju. Setting ini yang menjadi daya tarik film ini, sejauh mata memandang kita di suguhi hamparan salju.

 

VI

Dogville

Jika kita runut dari karya-karya Lars Von Trier sebelumnya, ini menjadi bagian ketiga dari tema Pengorbanan seorang perempuan demi satu cinta yang lebih tinggi. Seperti yang telah di lakukannya dalam  Breaking The Waves (pengorbanan seorang istri pada suami) dan Dancer In the Dark (pengorbanan seorang ibu pada anaknya). Dogville menjadi luar biasa ‘mengganggu’ kita, bukan hanya pada tema cerita (pengorbanan seorang anak pada ayahnya), tapi apa yang dieksplorasi sebagai satu kemungkinan dalam sinema. Dunia yang dibangun diatas sebuah panggung datar, menjadi dunia yang terpetakan tanpa dinding, sekat-sekat hanyalah jarak pandang karakter yang pendek, hanya suara yang menembus tanpa batas, siapa mendengar siapa. Lalu kita melihat petak-petak dalam bingkai seakan  ruang privat dari masing-masing karakter, massa yang di petakkan, tetap terlihat karena penonton di bekali kacamata tembus pandang, dengan ‘hand held’ camera movement, jump-cut dan sub-set yang di eleminir hingga batas maximum.

Dengan pilihan setting yang demikian, setelah beberapa saat pembiasaan, kita langsung diajak masuk pada pokok-pokok persoalan dalam film. Dogville adalah sebuah ‘desa’ miskin yang hanya berpenghuni 15 orang dewasa dan beberapa anak-anak, bekas tambang di US of A pada satu periode dimana gangster merajalela. Tom adalah seorang penulis muda yang gemar melakukan penyuluhan-penyuluhan moral, memaksa-tunjukkan watak apa yang kurang dari para penduduk (termasuk dirinya); acceptance. Adalah Grace, seorang wanita muda, persengketaan dengan ayahnya (bos gangster) membuatnya menjadi ‘buronan’ yang terdampar di tempat ini yang kelak di sepanjang film ini akan membuktikan kebenaran ucapan Tom. Mengusung cita-cita moral, menjadi orang ‘baik’, yang berbeda dengan ayahnya, Grace mengorbankan dirinya menjadi pelayan bagi semua orang, demi satu perlindungan sekaligus pembuktian atas cita-cita moralnya, yang tragis lantaran berakhir sebaliknya.

Rangkaian perkara dalam film ini membangun sebuah argumentasi bahwa ‘keanjingan’ dasariah manusia sama saja, berlaku bagi orang-orang sederhana dan para gangster.

 

Akhir

Pondok Bambu 010204

Panji.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s