Novel Tanpa Huruf “R”

Mau Kemana, Novel Tanpa Huruf “R” ?

Sebuah Kritik, oleh Panji

(bahan diskusi, Graha Bakti Budaya-TIM Oktober 2003)

Berawal dari kekerasan, berakhir dengan kekerasan, tak ada yang dimenangkan, Tuhanpun tidak. Moralitas melulu berjibaku dengan kekerasan, “…..semua orang yang aku cintai mati dibunuh…. berdosakah saya jika menggugat Tuhan…. ?” kira-kira bunyi pertanyaan (baca; pernyataan) Drum  pada pastor di penghujung film. Banyak dialog dan narasi  berbentuk pernyataan-pernyataan, sementara karakter-karakter hanyalah penyampai. TV kita memang penuh dengan berita tentang kekerasan, kriminalitas, pembunuhan, narkoba, perkosaan, perang antargolongan, penggusuran dan lain sebagainya, film ini barangkali menjadi proyeksi bagi pembuatnya untuk menyampaikan kemuakannya, melalui Drum, karakter utama yang seorang fotografer-jurnalis dan penulis novel, di mana kesendirian dan kesakitannya merupakan korban dari kekerasan. Masa kecilnya yang terusir karena perang golongan, kematian ibunya, ayahnya, pacarnya, saudaranya yang bisu, anjingnya (di ceritakan tidak digambarkan).

Sesungguhnya tema film ini cukup menarik, namun lagi-lagi kita menghadapi kegagapan ketika terlalu banyak peristiwa yang ingin ditampilkan dalam banyak gaya,  menjebak strukturnya menjadi semacam kompilasi peristiwa dan kompilasi statemen-statemen atasnya, sekaligus kompilasi gaya, membuka celah bagi munculnya kelemahan-kelemahan;

 

Treatmen Visual, penggabungan beberapa gaya :

imaji-imaji yang seakan tampil apa adanya dan yang di create, mis; reporter TV yang tampil tak kalah menyeramkan dibanding korban pembantaian yang di laporkannya (pembantaian di Kelenteng), adalah style tersendiri yang tak di dukung pada adegan-adegan lainnya.

Munculnya karang putih (seperti es), pose-pose ritual (ayah), pose Drum di pantai,  menjadi imaji terpisah-pisah yang tidak menyatu dalam satu keseluruhan.

Crowd di pasar, obat dwi-fungsi (term lokal), penjaja asuransi juga merupakan gaya tersendiri.

Transisi masa kanak-kanak menuju dewasa, sesungguhnya merupakan sesuatu yang unik, namun karena berada di tengah ke-acak-an jadi tenggelam begitu saja.

Karakter sebagai penyampai pernyataan melalui Voice-over, antara suara hati dan statemen atas peristiwa di sekitarnya menjadi tak terbedakan (subjectif-objectif);

Antara peristiwa yang dialaminya dan peristiwa yang dialami karakter lainnya, sebab jika seluruh sudut adalah sudut subjectif salah satu karakter, ini mengandung konsekwensi pada treatmentvisualnya. Akibatnya Voice-over Angel, yang mencoba menjelaskan siapa Drum, menjadi sepotong Voice-over yang tanggung.

Voice-over korban (Aceh, kalau tak salah) dalam adegan Air Sunyi lagi membaca Novel Kejet-Kejet, yang seharusnya menjadi sepenggal informasi isi novel dan jika digabung dengan sapaan penjual bensin di pasar, “…bang… itu ceritanya seru….” , menjadi dua penggal ditambah dialog Air Sunyi pada Dosennya “ cara dia mengungkapkan isi novelnya sangat menjijikkan…” , menjadi tiga penggal dan diakhiri dengan dialog Air Sunyi dengan Drum tentang moralitas dalam novel itu, barangkali akan memberi clue bagi penonton untuk me-reka-reka apa sesungguhnya isi novelnya (jika memang itu harapannya), namun karena yang sepotong-sepotong ini saling berdiri sendiri-sendiri baik secara literer maupun premisenya, maka justru mengaburkan, membingungkan.

Sama halnya dengan plot karakter lainnya, Talang si saudara bisu yang akhirnya membunuh, Atau Kekasih nya yang biseksual, menjadi plot yang tanggung, apakah hendak berjalan sendiri-sendiri (aleatoris) atau mendukung plot utama.

Ironisnya penggalan-penggalan yang acak ini diciptakan dalam sebuah struktur cerita yang kronologis. Waktu nya jelas, Peristiwa juga berada dalam ruang jelas. Sehingga sulit menemukan pendasaran-pendasaran ‘logika’ bagi keberadaan term-termnya. Kronologi ini jelas dari fase-fase perkembangan karakternya, yang sekaligus melengkapi kejanggalannya. Bahwa benar telah terjadi serentetan peristiwa traumatis atas Drum, namun ‘kelainan’sebagaimana yang ditunjukkan dari cara dia memperlakukan Pelacur dan Air Sunyi, mengikatnya sedemikian rupa dan menjadi obsesinya setiap bulan purnama, sesungguhnya tak berdasar secara kuat. Sejak dari mula kita telah diajak untuk terus bersimpati atas kematian-demi kematian orang-orang yang di cintainya dan tak di tunjukkan pada masa kecilnya gejala-gejala atas ‘kelainan’ nya itu. Hal ini menjadi kontradiktoris dengan pemahamannya tentang moralitas, “……kita harus berpegang pada nilai-nilai yang mutlak……” sebuah statemennya saat berdialog dengan Air Sunyi, ditambah dengan sikap tanpa ampun atas ‘kelainan’ karakter lainnya, pacarnya yang biseksual. Apakah hal-hal yang kontradiktoris ini cukup hanya di cairkan dengan masturbasi ?

Secara prinsip tak ada yang tak boleh ditampilkan dalam sebuah film, dan tak perlu ditetapkan bahwa film yang baik adalah…… (every films isolate their own terms) namun jika ke-acakan mencegah sebuah film untuk di pahami, lalu untuk apa…?

 

Pondok Bambu 16/10/03

 

Panji Wibowo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s