Wind Will Carry Us

Dialektika Tanpa Wajah

“Wind Will Carry Us”

Sutradara; Abbas Kiarostami

Apa yang ditawarkan perkampungan diatas bukit itu adalah keramahan, setiap orang tahu apa yang terjadi atas orang lain, setiap orang menyapa orang lain saat berpapasan, tidak ada kamar rahasia, kecuali rahasia dalam diri setiap orang, dan itu ada di dalam rumah yang tak pernah sekalipun diperlihatkan kepada kita, tak perlu. Satu-satunya ruang tertutup yang di perlihatkan adalah sebuah gua yang gelap, terletak agak kebawah. Tempat dimana Besad harus mengambil susu kambing, disitu puisi Wind Will Carry Us dibacakan untuk seorang gadis berusia 16 tahun yang tengah memerah susu kambing, gadis yang lari ketika dipergoki Besad diatas bukit, tempat Yoseff seorang diri menggali lubang, dimana tiang pertama telekomunikasi akan ditancapkan. Alur dari gadis inilah yang konon menyebabkan film ini tak boleh beredar di Iran. Apakah alur ini akan membuat orang berasosiasi tentang gadis buruk yang mengadakan pertemuan rahasia dengan seorang lelaki (Yoseff) diatas bukit? Dan memerahkan susu kambing untuk seorang lelaki lainnya (Besad) didalam sebuah gua yang remang-remang? Seorang gadis yang bahkan wajahnyapun tak pernah jelas diperlihatkan.

Setiap orang asing selalu mudah dikenali, dan dengan segera setiap orang tahu siapa orang asing itu, paling tidak apa profesinya dan apa yang sedang dikerjakan di kampung itu. Tanpa perlu memperlihatkan secara visual bahwa orang-orang bercerita tentang kedatangan seorang asing. Cukup dengan memperlihatkan bahwa dimanapun semua orang yang dijumpai Besad menyapanya “tuan Insinyur”—meskipun kedatangan Besad sesungguhnya untuk membuat film dokumenter– . Ini merupakan bentuk komunikasi tradisional, komunikasi lisan, nature is the medium, dimana setiap orang berkepentingan untuk tahu berita, berita yang terkait langsung dengan apa yang terjadi dengan lingkungan mereka, berita yang mereka butuhkan, berita yang bukan entah darimana dan tak ada hubungannya dengan kehidupan mereka. (seperti apa yang mereka lakukan terhadap nenek Farsad yang sedang sakit—dan ini adalah subjek film dokumenter Besad, menunggu nenek ini mati, dan memfilmkan upacara kematiannya yang unik).

Sebagaimana umumnya tradisi lisan, komunikasi yang terjadi adalah komunikasi langsung dimana subjek saling bertatap, dan aliran informasi langsung terarah pada subjek yang satu ke subjek-subjek lain, menjadikan informasinya berkembang, tak ada kepastian sebagaimana ketika informasi dituliskan atau di audio-visualkan. Ini memang mengandung “ketidakjelasannya” sendiri, namun bukan berarti tanpa makna, “ketidakjelasan” nya itulah ke”kayaan”nya, ke-manusian-nya. Lihat opening film ini; Besad dan temannya ada di sebuah jalan di perbukitan yang semuanya tampak sama, alamat yang dituliskan oleh paman Farsadpun “tidak jelas”, hanya nama sebuah desa Siah Dareh , dan kode-kode alamiah; tikungan, pohon kecil, sawah, pohon besar, pohon tinggi. Bagi Besad dan temannya itu tampak sama saja, (tapi tentu tidak bagi orang di desa itu). Hal itu memaksa mereka bertanya, berkomunikasi langsung, lalu semua yang “tidak jelas” menjadi “jelas” meskipun masih “tidak pasti”. Kepastian baru mereka peroleh ketika Farsad yang telah ditugaskan pamanya untuk menunggu, mengantar mereka menuju alamat yang dimaksud. Namun itupun masih tidak memberi “kepastian” karena jalan yang diambil Farsad bukanlah jalan yang umum, melainkan jalan pintas, dan jalan pintas ini adalah jalan yang tersulit.

Di desa ini setiap kali hendak berkomunikasi menggunakan selularnya Besad harus mencari tempat yang tinggi, sebuah bukit, dan bukit itu adalah kuburan. Terhitung lima kali sepanjang film ini dia harus mengendarai mobilnya untuk mencapai bukit itu, menunggu telepon. Telepon pertama datang dari rumahnya, entah adik atau kakak, istri atau ibu, “tidak jelas”, yang jelas bukan dari yang diharapkan. Telepon yang kedua baru dari yang di harapkan, Ny. Godzari, yang menyebabkannya datang ke desa Siah Dareh ini. Pembicaraan dalam telpon selalu ditampilkan sepihak, dimana lawan bicaranya tak pernah ditampilkan, suaranyapun tidak.

Bukit yang juga kuburan itu merupakan jawaban atas pertanyaan Besad pada Farsad pertama kali dia tiba di desa. Rupanya inilah tempat pertama pekerjaannya dimulai, dimana seorang penggali (Yossef) telah memulai pekerjaannya. Komunikasi diantara mereka (Besad dan Yossef) hanyalah melalui suara, seperti apa wajah Yossef tak pernah diperlihatkan (kecuali kedua belah kakinya saat diselamatkan oleh warga desa ketika tertimbun tanah, itupun hanya lewat kaca jendela mobil Besad)

Sisi keluarbiasaan Kiarostami dalam Wind Will Carry Us adalah dia sangat menghargai penontonnya, memberi ruang untuk terlibat secara parstisipatoris, aktif, berdialog, turut membuat pernyataan, dan ikut mengusut. Banyak informasi yang dibiarkan tidak lengkap dan penonton diajak untuk melengkapinya, memberinya makna yang sangat beragam, yang “tidak pasti”, dan sangat “human”. Film ini sangat tidak rumit dengan “simbol-simbol”, bersahaja tapi pasti membosankan bagi penonton yang terbiasa dimanja film-film Hollywood (dan yang sejenis), dimana segala informasi yang dibutuhkan dalam sebuah film sudah tersedia secara lengkap, penonton hanya butuh duduk menonton, lampu menyala lalu sudah, “terhibur” dan paham.

Ada beberapa hal yang pantas dicatat dalam film ini, yang bukan sekedar ‘gaya’ untuk dicari-cari agar kelihatan beda;

  1. Setting selalu berada dalam ruang transisi: any-space-whatever, sebuah ruang diantara ruang permanen (Gilles Deleuze, Cinema 1, Movement-Image), gang kecil antara kamar, setting percakapan/pertemuan Besad dan ibu muda yang memiliki anak banyak. Café, ruang antara, tempat singgah semua orang dan bukit, ruang transisi tematis, antara ruang tradisi (komunikasi lisan, tatapan langsung/intuitio antar subjek-objek/intersubjektifitas dan ruang modern/telekomunikasi dimana lubang bagi tiang pancang pertamanya sedang digali (penempatan Besad yang selalu disana saat menerima telepon menjadi penegasan hal tersebut). Bukit juga merupakan setting pertemuan antara Gadis 16 tahun dan Yossef (singkat tapi berperkara). Bukit juga merupakan kuburan, ruang antara bagi dunia fisik dan non-fisik, dunia atas dan bawah (bagi yang percaya). Ruang permanen yang dijadikan setting tercatat hanya satu yaitu gua kandang kambing perah.
  2. Penggunaan out-of-field ; Ruang kejadian diluar bingkai/frame yang secara imajiner seolah-olah in-field terbawa atau ada didalam bingkai (Gilles Deleuze, Cinema 2, Time-Image); kejarangan menampilakan secara visual lawan bicara Besad dalam film ini (reverse shot), menarik untuk dianalisa. Hal yang perlu disadari ini bukan merupakan ‘kesalahan’ atau sekedar cara ‘asal beda’. Pertama, subject matter dari film ini adalah seseorang yang datang ke suatu tempat untuk membangun sistem telekomunikasi, yang nantinya akan memberi kemungkinan bahwa subjek-subjek yang berinteraksi tidak saling melihat, Interaksi Besad dengan Yosef, Besad dan Ny. Godzari. Kedua, pada kasus lain, kebanyakan lawan bicara Besad adalah perempuan.Iran dengan situasi sensor ketat seacar hukum islam tidak memperbolehkan untuk memperlihatkan wajah perempuan terlalu lama dan sama sekali dilarang memperlihatkan perempuan yang tidak berjilbab. Dalam beberapa adegan antara Besad dan ibu Farsad, ditampilakan ibu Farsad hanya melalui suara sementara visualnya tetap wajah Besad. Selain itu pengabilan gambar karakter perempuan selalu dalam jarak (tidak Close Up), meeskipun ini tak terhindarkan pada ibu penjaga café, dan perempuan beranak banyak di seberang kamar. Namun hal inipun masih relefan, karena kedua karater ini menggambarkan secara verbal peran perempuan dalam tradisi Iran, dan ditampilkannyapun secara sekilas-sekilas.
  3. Ketiga, dalam kasus lainnya dimana lawan bicara Besad adalah laki-laki yang sebagian besar tidak ditampilkan sosoknya secara visual adalah menyangkut anomimitas, ketidakjelasan status, yang ada hanya nama sebagai panggilan yang tak perlu sebutan profesi dan tidak berpengaruh pada cara pandang manusia satu dan lainnya, tinggi-rendah derajad. Disana hanya guru yang statusnya jelas.

Dari ketiga contoh diatas juga patut digarisbawahi kedudukan suara dalam film ini, bahwa suara juga berarti ‘imaji’ yang memang hadir ketika terdengar, sekalipun pemilik suaranya berada diluar bingkai (out-of-field). Sebagaimana suara anjing yang terus menggonggong di banyak adegan dalam film ini namun visual anjing menggonggong baru ditampilkan diakhir film.

Selain hal-hal diatas, film ini secara naratif juga tidak memberi ending yang jelas, memberi ruang yang seluas-luasnya pada setiap orang untuk mengakhiri sendiri ceritanya. Apakah keramahan dalam masyarakat itu (tradisi, komunikasi langsung, sapaan) akan berubah dengan masuknya teknologi komunikasi, yang sama artinya dengan membanjirnya informasi-informasi yang tidak dibutuhkan atau kecil tingkat keterkaitannya dengan kebutuhan mereka sendiri? Atau bagaimana dengan Farsad yang rajin sekolah akan memandang kemajuan hanya dalam ukuran-ukuran keberhasilan pendidikan yang melulu menggunakan tolok ukur pencapaian manusia atas teknologi untuk mengeksploitasi alam? Seperti sosok Besad, manusia modern yang pada akhirnya masih perlu bertanya pada Farsad, anak desa yang masih kecil, “apakah menurutmu aku ini baik…apakah aku aku ini orang yang baik…?” (Orang-orang desa mengetahui dia sebagai Insinyur, sementara tujuan dia sebenarnya membuat film)

Akhirnya “The Wind Will Carry US” adalah sebuah ajakan untuk kembali menghargai kode-kode alam, nature, manusia kembali pada ‘kemanusiaanya’, yang tidak ‘jelas’ yang bukan kepastian angka-angka, digit matematis, huruf. Barangkali kita perlu lebih berinteraksi satu sama lain, berintuitio-bertatapan langsung, manusia dan manusia, manusia dan alam sebagai upaya untuk membuat segala sesuatunya menjadi ‘jelas’ tanpa harus kehilangan ke’manusiaannya’ yang terbatas. Ada baiknya kita juga bertanya, apakah kemajuan teknologi telah menjamin manusia untuk megerti ke’manusiaanya’? apakah kemajuan ekuivalen dengan kebahagiaan? ….. Lets Wind Carry Us…..

Kramat IV, November 2000

Panji Wibowo

Film-Lover

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s