Film Pendek: Pembelajaran atau Hasil Akhir?

Film Pendek : Pembelajaran atau Hasil Akhir?

Catatan atas FFPJabodetabeka-KPSB 25-30 Maret 2013
Secara umum, semua film yang masuk adalah film-film yang hebat. Film-film yang dibuat dengan penuh keberanian dan kreatifitas bahkan pada beberapa film memiliki daya kejut dan hasrat eksperimentasi yang berani, seperti Passo, Bilah, Merindu Mantan, untuk menyebut beberapa. Sebagian lagi memperagagan ketrampilan mengolah dramatik dengan shot-shot yang rapi dan engaging, sekaligus bertutur secara subtil dan inspiratif seperti Dino, Dongeng Dari Rumah Kontrakan, atau menampilkan parodi yang membuat kita tak berhenti terbahak seperti Teori Nasionalisme, El Clasico, atau thriller yang jitu seperti The House, Surprise, Tantrum. Kemudian ada juga yang konsisten memperagagan sinematik alegoris yang sarat simbol seperti Lullaby, The Restaurant.

Dari film-film yang menjadi nominasi, rasanya sangat mustahil bagi juri untuk dapat mengatakan bahwa satu film lebih unggul dari yang lainnya. Setiap film memiliki keunikannya. Baik film yang mengusung gagasan-gagasan besar ataupun yang sederhana, sekalipun dengan pendekatan berbeda-beda tetap saja masing-masing film ini memiliki daya pikatnya. Ketika setiap unsur dari film-film itu telah memenuhi prasyarat teknis dan ‘rasa’ sebagai manifestasi dari kesadaran sinematografis dan juga kesadaran fungsional imagery visual-aural maka terlihat bahwa setiap pembuat film ini terasa demikian ‘leluasa’ untuk menyajikan rangkai-imaji yang melampaui batas-batas kognisi. Shock to thought, pikiran menjadi gagap, karena apa yang tersaji di layar sanggup melampaui ekspektasi.

Image speak louder than word

Dari semua film yang masuk, jelas bahwa sebagian pembuat film masih banyak yang “kurang yakin” pada kekuatan image. Sebutlah dalam film, Radio Rara, diperlihatkan seorang karakter sedang mengutak-atik radio, mengguncang-guncangnya namun tak terdengar radio itu mengeluarkan suara, ditambah dengan ekspresi kecewa, lalu karakter bicara sendiri, “…yah… rusak…” . Apakah kita (penonton) masih perlu mendengar si karakter berguman sendiri ? Pada film yang lain, Belati, Seorang karakter di sebuah warung, penampilannya telah menjelaskan dia sebagai berandalan, dandanannya berbeda dengan sebagian besar pengunjung yang mahasiswa, sebilah belati diperlihatkan tergenggam ditangannya, kemudian dia melihat-lihat sekitar, mencari-cari. Masihkah penonton perlu mendengar si karakter bergumam sendiri, “….siapa nih yang mau gua palak hari ini….” ? Bukankah rangkaian shot telah ‘berbicara’ secara jelas? Bahkan jika gumaman itu dihilangkan, barangkali justru akan menciptakan rasa ingin tahu, penonton tak akan langsung menduga bahwa si Karakter akan memalak, bisa saja penonton menduga-duga hal yang lain terlebih dahulu sebelum maksud si karakter pada akhirnya terjelaskan.

Dalam kasus yang berbeda seperti pada film Lullaby, The Restaurant, dua film ini tak berdialog melainkan menggunakan voice over. Namun sangat disayangkan penggunaan Voice over ini justru terasa memenjarakan makna. Voice over mengarah-jelaskan pesan, hadir seakan menjadi sebentuk ketidak-percayaan pada kekuatan adegan-adegan yang digambarkan. Rangkaian image yang demikian powerful, jadi terasa datar, voice over yang mungkin dimaksudkan sebagai suara hati, terasa menggurui, padahal image-image yang ditampilkan telah sanggup berbicara lebih lantang.

Masih ada beberapa film lainnya yang sarat dialog dan miskin penggambaran. Minim pemanfaatan set, subset, dan minim aksi, sepanjang film kita hanya diminta menonton wajah-wajah karakter yang bercakap-cakap. Secara prinsip, dalam film, dialog tentu bukan sesuatu yang dilarang, namun jika sesuatu bisa kita gambarkan, untuk apa kita katakan? Karena melalui penggambaran segala sesuatunya akan lebih “make believe”.

Full Musik

Musik adalah salah satu unsur suara yang penting, baik inside—yang terancang di dalam shot, ataupun outside—scoring: Yang dirancang setelah film di-edit. Penempatan musik yang pas dapat menjaga pace, ritme, meng-expand mood, Namun musik yang berlebihan adalah malapetaka, jika dalam sebuah film, dari awal hingga akhir musik begitu dominan, tampilan memang terasa ‘atraktif’, namun muatan-muatan pesan dan konstruksi dramatiknya jadi ‘mentok’, ruang yang terbentang menjadi penuh, berjejal tanpa interval. Musik tidak saja menindas visual, namun juga menindas unsur-unsur suara lain; ambience, suara-suara yang bersumber dari elemen-elemen di dalam set atau adegan. Kecuali jika konsep filmnya memang berkehendak demikian. Atau dominasi musik disengaja untuk menutupi kekerangan-kekurangan visual, meskipun itu tak akan membuatnya lebih baik. Separuh lebih dari film yang masuk memperlakukan musik dengan cara yang demikian.

Yang Vulgar

Secara umum apa yang membuat sebuah karya, baik film atau seni lainnya kaya intepretasi atau terasa ke’dalam’annya adalah berkaitan dengan kemampuan masing-masing kreator untuk ‘mengatur selubung’ dalam setiap keping informasi. Kapan sebuah shot, atau rangkaian shot mengirimkan pesan yang tegas dan kapan dibiarkan berkabut untuk menjaga pace, curiousity. Kadang shot yang hening atau ketika seorang karakter ‘tak berekspresi’, di momen yang tepat, bisa menjadi penting dan berarti sesuatu. Rasanya televisi kita sudah terlalu berlebihan memberikan contoh tentang yang vulgar ini; Ekspresi marah, ekspresi sedih, ekspresi gembira yang serba vulgar. Barangkali ini yang sedikit banyak memberikan pengaruh pada beberapa film peserta.

Sebutlah dalam film Dongeng Dari Rumah Kontrakan, film yang apik, inspiratif, potret orang-orang kecil yang penuh daya dan semangat untuk survive. Ibu pendongeng dengan empat orang anak yang bapaknya dipenjara, digambarkan dalam interaksi antar karakter dengan sangat memikat, natural dan menyentuh. Namun masih terdapat beberapa scene yang terasa vulgar dan mengganggu; perdebatan di tangga sebuah kantor mengenai pembatalan acara dongeng, terasa canggung. Juga Kemarahan pemilik kontrakan secara berlebihan karena Si pendongeng belum membayar sewa justru mengendurkan kedalaman dramatik. Kemudian scene petugas keamanan yang menangkap salah satu anaknya dan meminta tebusan terasa fake. Penonton memahami informasi yang disampaikan dari scene-scene itu namun engagement-nya menjadi lepas, ekspresi karakter-karakternya terasa vulgar, berbeda halnya dengan pada saat si Ibu berinteraksi dengan anak-anaknya yangterasa sangat real dan engaging.

Contoh sebaliknya terjadi dalam Dino, film ini terasa halus dan sabar. Mengambil setting yang cukup berat, periode awal sistem komputasi dan internet yang merevolusi sistem pendataan sekaligus perilaku pasar dan teknik pemasaran. Karakter utama, ibu dari seorang anak, single parent, pemasar buku, harus berhadapan dengan kenyataan bahwa memasarkan buku dengan cara konvensional, door to door, sebagaimana yang selama ini dia lakukan mulai terasa tidak membawa hasil yang memadai. Sebuah persoalan yang membuatnya frustasi. Pada saat yang sama, dia juga rajin menemani anak lelakinya sebelum tidur dengan cerita tentang dinosaurus. Hingga pada suatu kali dia harus menjawab pertanyaan anaknya: “Kenapa dinosaurus yang besar dan kuat bisa punah?”. Jawaban dari pertanyaan ini menjadi momen eureka pertama bagi kebuntuan cara-cara dia memasarkan buku, problem yang purba (kepunahan dinosaurus) dan yang kini (transisi abad komputasi), menemukan korelasi metaforiknya. Dengan satu premis bahwa pada jaman seperti apapun, jika kita ingin bertahan hidup maka kita harus mampu beradaptasi dengan perubahan. Momen eureka kedua adalah ketika akhirnya Paul, menemukan buku lama yang selama ini dicari-carinya. Dua momen eureka ini tersaji secara subtil, berkelindan menggerakkan film dengan cara tutur naratif-kronologis. Salut.

 

Kenapa Passo?

Passo mengekspresikan bentuk yang berbeda, memberlangsungkan sebuah peristiwa yang tidak kronologis sebagaimana Dino atau Dongeng Dari Rumah Kontrakan. Pada film ini waktu diringkus, dilipat-lipat, dibebaskan dari ketergantungan naratifnya. Rangkai-imaji yang tampil tidak lagi berada dalam kelaziman sensorial pandang-dengar kita. Pikiran gagap, karena film ini memperlihatkan sesuatu yang tak ada rujukannya. Anak perempuan berlari membuka pintu, menyeberang waktu, waktu yang lain, bertemu sosok dewasa, berbatas bingkai, lalu dua sosok itu menyatu seakan hendak berbagi kepedihan, kepedihan yang identik, kepedihan yang terlampau besar untuk dihadapi, yang asing dan tak bisa dimengerti orang lain.

Sudah dari mula Passo memberi kita sesuatu yang asing; framing, penyambungan gambar dan tonalitas yang tak lazim, namun semua itu masih berada dalam satu kesatuan tematis. Sebuah dunia perasaan yang hendak digambarkan dan dibagi dengan caranya sendiri.

 

Film Sebagai “Bahasa” Teknis

Film itu teknis, setiap pembuat film dituntut untuk memiliki kesadaran pada yang teknis ini. Ada jarak antara tubuh dan peralatan. Semakin dekat jaraknya semakin leluasa kita meraihnya. Dengan kata lain peralatan (sebagai yang teknis) merupakan kepanjangan dari tubuh, hanya melaluinya seorang pembuat film dapat menggambarkan imajinasinya. Kesadaran akan yang teknis ini tidak melulu visual tetapi juga aural. Sejak film bersuara ditemukan (sinkronisasi) sekitar awal 30an, suara secara cepat mengambil kedudukan dan perannya, tidak hanya untuk merekam dan mensinkronisasi dialog atau memberi latar musik dalam sebuah film. Suara juga memiliki daya emotifnya sendiri, seperti sound efek, ambience dan hal-hal lain menyangkut indra pendengaran. Secara prinsip, yang aural ini menjadi setara dengan yang visual, beriring dan saling memperkaya. Kehati-hatian dalam penggunaan elemen-elemen suara dalam sebuah film sebanding dengan kehati-hatian tata-visualnya. Bahkan menempatkan keheningan dalam sebuah film itu juga bisa berarti mengandaikan kesadaran akan pentingnya suara. Suara tak sekedar menjadi pelengkap atau sekedar penyelesai sebuah film, sebagaimana yang telah dipaparkan dalam contoh film-film diatas.

Penutup

Bagi sebagian orang, film pendek adalah filmnya orang yang masih belajar membuat film. Namun dari film-film peserta ini, jelas bahwa itu tidak sepenuhnya benar. Beberapa pembuat film telah menunjukkan bahwa mereka telah cukup terampil. Sepuluh dari empatpuluh delapan film yang masuk telah terpilih menjadi nominasi, beberapa diantaranya memang masih memperlihatkan kelemahan-kelemahan, namun hal ini tidak menutupi bakat dan kecakapan mereka dalam berkarya. Sepuluh-sepuluhnya berbeda dan pantas untuk memperoleh Ali Sadikin Award, namun sayang, award’nya hanya ada satu, ini membuat juri harus berpihak hanya pada satu film, dan satu film itu adalah Passo….

Parigi, 1 April 2013

Panji Wibowo