Catatan Penjurian AFI 2015

CATATAN PERTANGGUNGJAWABAN

DEWAN JURI APRESIASI FILM INDONESIA 2015

Dewan Juri, yang beranggotakan tujuh orang, melakukan proses penjurian dengan berpegang pada Pedoman Penjurian Apresiasi Film Indonesia 2015. Meski demikian, proses penjurian dilakukan lewat diskusi yang bebas dan penuh keterbukaan dengan memberi tempat penting bagi kekuatan argumentasi.

Bertolak dari tema Apresiasi Film Indonesia 2015, “Daya Budaya Sinema Indonesia,” kami melihat pentingnya memberikan apresiasi pada budaya sinema yang menopang perkembangan film Indonesia. Kami memberikan apresiasi yang tinggi pada setiap ikhtiar yang dilakukan oleh pihak mana pun, baik perseorangan maupun kolektif, yang terus menghidupkan, memajukan dan membarui budaya sinema Indonesia. Oleh karena itu, AFI tidak hanya memberikan penghargaan pada karya sinematik semata tetapi juga pada komunitas penggiat film, lembaga pendidikan film, pemerintah daerah dan media cetak yang ikut memberi sumbangan bagi kemajuan perfilman Indonesia. Bahkan, AFI juga memberikan apresiasi yang tinggi pada sosok yang telah meletakkan landasan yang penting dalam sejarah budaya sinema Indonesia dan karya yang menandai tonggak penting perkembangan sinema Indonesia.

Tahun ini, Apresiasi Film Indonesia memberikan empat penghargaan baru, yakni Apresiasi Film Biografi, Apresiasi Pemerintah Daerah, Apresiasi Kritik Film dan Apresiasi Kajian Akademik. Tentu saja, penghargaan baru menciptakan tantangan tersendiri dalam proses penentuan unggulan dan penerima penghargaan. Oleh karena itu, ketiga penghargaan baru semestinya tidak hanya dimaknai sebagai wujud apresiasi terhadap dinamika baru dalam perfilman Indonesia, tetapi juga penghargaan itu menyiratkan harapan agar ke depan kian banyak film biografi yang berbobot, pemerintah daerah yang memiliki kepedulian tinggi dalam memajukan film, kritik film dan kajian akademis yang bernas dalam menakar perfilman Indonesia.

Patut dicatat, sejak awal kami Dewan Juri menerapkan sikap yang tegas, sebagaimana tertuang dalam Pedoman Penjurian Apresiasi Film Indonesia 2015, yakni menggugurkan unggulan di mana anggota Tim Seleksi atau Dewan Juri terlibat langsung di dalamnya. Sikap ini dipilih tidak hanya demi menjaga integritas Dewan Juri, tapi juga menjamin objektivitas dalam penilaian yang terbebas dari bias kepentingan pribadi.

Demikianlah, ijinkan kami Dewan Juri menyampaikan pertimbangan tentang para penerima penghargaan.

  1. APRESIASI FILM FIKSI PANJANG

Di tengah kecenderungan umum film Indonesia yang mengangkat tema urban, kelas menengah dan remaja dan mendramatisasi persoalan remeh-temah, film Siti karya Eddie Cahyono menyodorkan potret kaum perempuan pinggiran yang bergulat dengan problem ekonomi dan keharusan menanggung beban keluarga karena suami yang tergolek lemah dan tak berdaya. Meski demikian, film Siti tidak terjebak ke dalam kecenderungan melodramatis yang sentimental dalam menggambarkan beratnya pergulatan hidup tokohnya. Hampir seluruh aktor dalam film Siti memeragakan seni peran yang memukau karena mampu melebur ke dalam karakter yang diperankannya sehingga penonton tersugesti untuk menyelami lebih jauh karakter-karakter itu.

Memilih warna hitam-putih, film Siti justru mampu menunjukkan penguasaan bahasa film yang baik sebagaimana tercermin dalam rangkaian shot yang efektif dan pilihan angle yang cermat dalam membangun keutuhan narasi film. Pilihan gaya sinematik ini patut memperoleh apresiasi di tengah ‘kegenitan’ dan sekadar gambar-gambar cantik yang dimudahkan oleh teknologi terkini, namun mubazir dalam menciptakan narasi yang utuh karena masih kurangnya kecakapan dalam penguasaan bahasa film.

  1. APRESIASI FILM FIKSI ANAK

Tidak mudah menemukan film panjang anak yang berbobot dalam satu tahun belakangan ini. Meski demikian, sejumlah film pendek Indonesia justru menyajikan keragaman tematik. Film Takut Denda karya Arief Rakhman Muallim tidak hanya mampu menangkap kepolosan kanak-kanak, tapi juga ikhitiar seorang anak untuk belajar mengatasi kecemasan terhadap hukuman (denda) dan keinginan belajar bertanggung jawab.

Di sisi lain, film ini juga mendedahkan kritik terhadap institusi pendidikan yang direpresentasikan oleh keberadaan perpustakaan sekolah yang cenderung menekankan sanksi bagi pelanggaran ketimbang dorongan agar mencintai dan membaca buku sebagai bagian esensial dalam proses belajar. Lewat dialog yang minimal dan durasi yang pendek, film ini mampu melukiskan secara efektif psyche umum kanak-kanak di Indonesia yang senantiasa dibayang-bayangi ketakutan akan hukuman ketimbang keberanian menjelajahi sumber-sumber pengetahuan.

  1. APRESIASI FILM FIKSI PENDEK KATEGORI UMUM

Dalam durasi yang singkat, film pendek dituntut mampu mencerap momen yang menarik lewat ekspresi sinematik yang memikat. Kendati jumlah produksi film fiksi pendek di Indonesia terbilang melimpah seiring dengan perkembangan teknologi digital, tak banyak film yang memiliki kejelian menangkap momen penting dalam kehidupan dan mentransformasikannya ke dalam bahasa sinematik yang memikat. Dengan segala keterbatasannya, film pendek Lemantun karya Wregas Bhanuteja berhasil memotret persoalan dalam keluarga dengan pendekatan yang sederhana, namun mampu menunjukkan adanya pergeseran dalam penghayatan terhadap nilai-nilai tradisi maupun bentuk sikap bakti anak kepada orang tua.

Menggunakan almari sebagai metafor yang menautkan perhatian orang tua kepada anak-anaknya, Lemantun juga berhasil menunjukkan secara subtil berubahnya relasi antaranggota keluarga karena perbedaan latar pendidikan dan pekerjaan. Akhir film ini menyiratkan nilai pentingnya menghargai warisan (tradisi) serta bakti anak pada orang tua tanpa harus dengan gelimang materi.

  1. APRESIASI FILM FIKSI PENDEK PELAJAR

Film pendek Ijolan yang disutradarai oleh Eka Susilowati menangkap dengan baik praktik permisif dan koruptif dari sudut pandang anak muda (pelajar). Setidaknya pada diri sang pembuat film telah tumbuh kesadaran untuk bersikap jujur dan menghindari sikap koruptif sejak usia belia.

Diproduksi di kota kecil dengan peralatan serba terbatas, pembuat film ini mampu menunjukkan siasat kreatif dalam berkarya. Meskipun gagasan yang diusung terkesan sederhana, film ini mampu mendedahkan pesan yang efektif perihal pentingnya menjunjung tinggi nilai kejujuran di tengah keterbatasan .

  1. APRESIASI FILM DOKUMENTER KATEGORI UMUM

Selama ini film dokumenter dianggap sudah cukup memadai hanya berbekal ‘voice over’ dari subjek yang diwawancarai, narasi yang cenderung mahatahu, serta gambar-gambar yang sekadar dirangkai untuk menyesuaikan diri dengan narasi. Di tengah kecenderungan yang demikian, Tumiran karya Vicky Hendri Kurniawan memilih jalan yang sedikit berbeda dengan meminimalisasi gambar subjek yang diwawancarai dan berupaya membangun cerita dalam peristiwa nyata. Di samping itu, dokumenter ini berhasil membebaskan diri dari sekedar reportase dan dokumentasi sekaligus keluar dari perangkap eksotisme adat dan tradisi.

Keunggulan lain dari film ini adalah kesanggupan untuk menghadirkan subjek dalam film sebagai pintu masuk persoalan yang lebih luas: migrasi budaya; kerasnya kehidupan nelayan; anggapan bahwa perantau sebagai orang sukses atau kaya saat pulang ke kampung halaman sehingga dibebani kewajiban-kewajiban tradisi yang kadangkala melampaui batas kemampuannya. Dokumenter ini mampu merekam sisi manusiawi dari ikhtiar merawat tradisi dan terhindar dari sikap yang terlampau memuja tradisi tanpa pernah menimbang risiko yang mengiringinya.

  1. APRESIASI FILM DOKUMENTER KATEGORI PELAJAR

Sebagai film dokumenter pelajar, dengan cukup padat dan informatif Jenitri karya Insan Indah Pribadi berhasil menyodorkan sebuah persoalan ekonomi rakyat yang hidup dalam masyarakat. Sebuah kisah tentang usaha ekonomi di kalangan masyarakat yang selama ini tidak banyak diketahui secara luas menunjukkan kekayaan alam indonesia yang belum banyak dieksplorasi.

Film ini juga memiliki peluang memberi inspirasi bagi dunia usaha dalam upaya mengolah potensi alam di Indonesia dan mengembangkannya menjadi bisnis yang memberi manfaat luas pada masyarakat.

  1. APRESIASI FILM BIOGRAFI

Ketika kita mendengar kata “biopik” ( istilah popular untuk “film biografi”), pikiran kita segera melayang pada tokoh-tokoh besar, para hero dan pemimpin-pemimpin politik yang namanya tertoreh dalam sejarah. Begitu pula, dalam sejarah panjang film Indonesia biopik disesaki oleh tokoh dari kalangan militer dan politik. Oleh karena itu, sesungguhnya cukup sulit menemukan biopik yang mengisahkan tokoh dari kalangan sipil dan kelompok minoritas.   Meski demikian, film Merry Riana (Mimpi Sejuta Dolar) karya Hestu Saputra, mendedahkan kisah kaum minoritas yang seringkali menjadi korban dalam kemelut politik.

Film ini juga memberi inspirasi pada kalangan yang luas ihwal daya tahan kaum minoritas di   di tengah pelbagai tekanan ekonomi, sosial dan politik karena etos kerja keras, sikap pantang menyerah seraya terus menghidupkan harapan.

8. APRESIASI PEMERINTAH DAERAH

Dalam rencana pengembangan budaya Pemerintah Daerah Yogyakarta (Pemda DIY) menempatkan pengembangan film sebagai salah satu misi strategisnya. Untuk itu Pemda DIY (lewat Seksi Perfilman) telah mempersiapkan program-program yang impresif yang meliputi penelitian/pemetaan, produksi film, pameran, sampai dengan festival film. Program-program ini tentu sangat mendukung masyarakat DIY yang di sana-sini sudah punya cara dan kebiasaannya sendiri dalam pengembangan budaya film. Memang harus diakui bahwa kemampuan Pemda dalam pengembangan budaya film ini secara langsung ditopang oleh UU No. 13 Th 2012 tentang Keistimewaan DIY.

9. APRESIASI LEMBAGA PENDIDIKAN FILM

Program Film, Fakultas Komputer dan Media di Universitas Bina Nusantara merupakan salah satu program studi di Indonesia yang cukup menjanjikan dalam pengembangan budaya film di Indonesia. Sejak awal program ini sudah memfokuskan pada dua bidang: produksi film dan kajian film. Lewat proses belajar yang mengombinasikan metode teori dan praktik, program studi ini berhasil mendorong para mahasiswanya berani melakukan eksperimen yang antara lain disertakan dalam sejumlah festival baik di dalam negeri maupun di luar negeri dan beberapa diantaranya memperoleh Award.

10. APRESIASI KOMUNITAS FILM

Montase adalah komunitas film independen yang berdiri sejak tahun 2005 di kota Yogyakarta dan masih aktif hingga sekarang. Komunitas ini memperlihatkan kesadarannya akan arti pentingnya edukasi, sehingga salah satu program pentingnya adalah penerbitan buletin, hal yang nyaris tak tersentuh oleh komunitas-komunitas film, yang kemudian dilanjutkan dalam bentuk blog. Buletin maupun blog komunitas Montase mengulas persoalan film, baik mancanegara maupun lokal secara mendalam. Bertitik tolak dari pemahaman yang baik mengenai film melalui ulasan-ulasan yang ditulis dalam buletin, komunitas Montase dalam perkembangannya juga memproduksi film fiksi maupun film dokumenter. Film-film yang diproduksi memperlihatkan kemampuannya dalam menyampaikan gagasan melalui kekuatan bahasa visual.

11. APRESIASI FESTIVAL FILM

Festival Film Purbalingga (FFP) berhasil ikut mendorong perubahan sejarah film di Indonesia: film ternyata bukan hanya merupakan budaya populer yang berputar-putar mengelilingi beberapa gelintir bintang melainkan bisa menjadi budaya rakyat di mana rakyat dari berbagai lapisan bisa menjadikan film sebagai bahasa kemanusiaan bersama. FFP yang begitu dekat dengan rakyat sekaligus independen dari penguasa juga bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang tentang bentuk festival film yang partisipatoris (tidak elitis) dan emansipatoris (tidak mengasingkan dari kehidupan masyarakat yang sebenarnya).

12. APRESIASI KRITIK FILM

Makbul Mubarak merupakan salah satu di antara sedikit penulis film di Indonesia yang secara konsisten menapaki jalur kritik. Selain setia menulis film qua film, tulisan-tulisannya juga sarat dengan kesadaran konseptual sehingga tidak hanya membuat tulisan-tulisannya terkesan lugas dan analitik, namun juga mampu mengajak pembaca untuk memasuki cakupan perdebatan film yang lebih luas baik secara tematik maupun geografis.

13. APRESIASI MEDIA CETAK

Di tengah maraknya blog pribadi yang menuliskan kesan dan penilaian terhadap film, tidak banyak media cetak umum yang masih memberi ruang bagi berita dan ulasan khusus film. Terbit sejak 1994 di Jakarta, majalah berita mingguan Gatra dalam setiap edisinya memuat resensi film, terutama film Indonesia, atau berbagai masalah yang terjadi di seputar dunia perfilman dalam rubrik khusus yang diberi tajuk “Film.”

Kendatipun menyajikan informasi yang ringkas dan padat, ulasan film dalam rubrik “Film” cukup kritis dan berani mengambil pendirian yang tegas. Dengan kata lain, ulasan film itu terhindar dari kecenderungan “iklan terselubung” film, meskipun tetap mengangkat aspek-aspek yang berharga dari film dan layak untuk diapresiasi penonton.

14. APRESIASI POSTER FILM

Ada kecenderungan yang nyaris seragam belakangan ini dalam tampilan poster film Indonesia yang sekadar menjajar foto sejumlah karakter utama dalam film. Poster film Siti karya A.C. Andre Tanama dikerjakan sebagaimana lazimnya sebuah karya seni rupa tanpa harus meninggalkan fungsinya sebagai poster. Sebagai sebuah karya seni, poster ini dikerjakan dengan teknik cukil yang menimbulkan efek kasar sekaligus dinamis, sederhana sekaligus confident dan arkaik. Efek ini cocok untuk menggambarkan hidup tokoh Siti yang berada pada garis batas antara tangis dan tawa, halal dan haram, bersuami dan tidak-bersuami, merdeka dan terjajah.

Komposisi yang sederhana membuat poster yang artistik ini tetap sebagai poster dengan fungsi informatif, persuasif dan tak kehilangan makna simbolisnya. Ini bisa dilihat dari karakter Siti dalam poster yang digambarkan tak memiliki bibir sebagai simbol kebisuan kaum perempuan pinggiran dengan warna hitam-putih yang menyimbolkan kekelaman nasib mereka.

  1. APRESIASI ADI-KARYA

Banyak film-film penting di masa lalu yang menjadi penanda bagi perubahan budaya, sosial dan politik. Meski demikian, umumnya cara bertutur film Indonesia sekadar bertumpu pada cerita. Sementara itu, aspek sinematografis dan unsur-unsur lain dalam film yang membentuk ‘bahasa’ belum banyak dijelajahi oleh para pembuat film. Akibatnya, dimensi naratif dalam film tak ubahnya dengan naratif dalam sastra. Berbeda dengan kecenderungan tersebut, Cinta Dalam Sepotong Roti (1991) karya Garin Nugroho menjadi penanda lahirnya cara bertutur baru di tengah kejumudan dan kemerosotan jumlah produksi film pada masa itu. Film ini tidak hanya menyajikan gambar yang puitis sekaligus kaya akan simbol, tapi juga menawarkan gaya tuturan yang segar serta tak sekadar mewarisi gaya pendahulunya.

Film ini juga menjadi penanda penting lahirnya karya sinematik dari generasi ‘sekolahan’ (lulusan sekolah film) dalam lanskap perfilman Indonesia yang membedakannya dengan generasi ‘sanggar’ maupun generasi yang mengandalkan bakat alam. Tak mengherankan, jika pada eranya film ini mampu memantik wacana dengan nuansa intelektual yang telah lama absen dalam jagad perfilman Indonesia serta menjadi acuan kekaryaan bagi generasi sutradara film sesudahnya.

16. APRESIASI ADI-INSANI

David Albert Peransi atau D. A. Peransi (1939-1993) adalah tokoh perfilman yang lengkap. Selain sebagai fotografer, pelukis dan pembuat film, Peransi juga dikenal seorang yang mumpuni di bidang teori dan kritik film. Reputasinya diakui tidak hanya di Indonesia, namun juga di luar negeri. Dari tahun 1970 sampai 1975 dia menjadi juri di berbagi festival internasional seperti di Oberhausen, Mannheim dan Laren. Pada tahun 1978 Peransi mengajar di jurusan Cinema Studies di New York University, Amerika Serikat.

Saat ini di tengah euforia produksi namun miskin kritik dan kajian film, sosok D.A Peransi layak untuk kita ingat kembali, kita hormati, dan kita jadikan inspirasi dalam hal kajian dan kritik film. Peransi telah memberi perhatian besar pada persoalan estetika film yang ditunjukkan tidak hanya lewat kuliah-kuliahnya, tapi juga telaahnya terhadap estetika film Indonesia yang kerap luput dalam kritik perbincangan publik. Peransi juga sangat penting diapresiasi justru karena memberi perhatian yang sungguh-sungguh pada film dokumenter dan eksperimental yang acap tersisih dari liputan media massa dan perayaan pada film fiksi komersial.

17. APRESIASI KAJIAN AKADEMIS

Penelitian dengan tajuk “Representasi Tragedi 1965 dalam Film”
 (Antropologi Media dan Film-Film Bertema Tragedi 1965)” oleh B.I. Purwantari ini merupakan inisiatif yang menarik sekaligus menantang dalam kajian film secara akademis. Berkat film, perkara-perkara di sekitar peristiwa 1965 kini tidak lagi dibicarakan dengan satu suara melainkan beragam. “Perbincangan tentang peristiwa 1965 mencapai fase baru ketika terjadi perubahan politik di negeri ini pada 1998. Narasi tentang peristiwa 1965 tidak lagi tunggal. Muncul narasi baru yang direpresentasikan oleh film-film tentang tragedi 1965.” Fase baru ini ditunjukkan oleh Purwantari lewat peristiwa-peristiwa filmis dalam sejumlah film yang ia baca sebagai bagian tak terpisahkan dari bangsa ini yang sedang mencoba berdamai dengan salah satu masa lalunya yang traumatik.

Jakarta, 15 Oktober 2015

Budi Irawanto (ketua), R.B.Armantono (anggota), Panji Wibowo (anggota), Otty Widasari (anggota), St. Sunardi (anggota), Tika Bisono (anggota), Yan Wijaya (anggota)