A cinema is a true, a story is a lie

Drama yg kita saksikan telah separuhnya terselesaikan dan  krisis semakin lama semakin jelas terurai menuju penyelesaian. Sinema memang tak berlaku adil pada cerita. Dan ‘aksi dramatis’ disini menjadi sebuah kesalahan. Tragedi itu seharusnya berada dalam suspense, ketertundaan yg tak pasti, cemas dan menggelapkan seantero wajah; pada kelambu, pada palang pintu. Setiap tetes tinta dapat membuatnya terkembang diujung mata pena.  Membias dengan sendirinya dalam segelas air. Setiap saat, seluruh ruangan dipadati oleh drama. Rokok yang terbakar di bibir asbak tampak seperti sebuah ancaman. Debu Penghianatan. Ornamen-ornamen yg lentur di lantai berkabut dan tangan kursi yang bergetar. Untuk saat ini, kesengsaraan membeku. Berharap. Kita tak dapat segera melihat sesuatu, namun kristal tragis yang seharusnya muncul ditengah plot telah hancur berantakan entah dimana. Gelombangnya berlanjut. Melilingkar-lingkar mengembang. Terus bekembang, memantul-mantul.

Tunggu sebentar!Telepon berdering… dan semuanya pun sirna.

Apakah pasangan itu pada akhirnya  menikah di akhir cerita adalah sesuatu yg sungguh-sungguh ingin kau ketahui? Lihatlah, TAK ADA film yang berakhir buruk, dan penontonpun bahagia.

Cinema is true. A story is a lie.

Jean Epstein ketika itu berusia 24 tahun (1921) yakin bahwa sinema dapat membawa revolusi artistik, namun tentu bukan seperti paragraf yg dia tulis diatas. Baginya kehidupan bukan tentang cerita, bukan tindakan-tindakan yg telah diorientasikan menuju sebuah akhir. Logika ini baginya sungguh tidak logis. Kehidupan adalah tentang kemungkinan-kemungkinan yg terbuka ke segala arah. Kehidupan tak ada urusannya dengan progresi dramatik, melainkan gerak yang panjang dan berkesinambungan yang tercipta dari infinitas gerak-gerak mikro. Sinema menurutnya merupakan seni yang sanggup bertindak adil pada kehidupan, sebuah seni yang memiliki kecerdasan,  sebuah mesin yang tak menghendaki apa-apa, yang tidak mengkonstruksi cerita apapun, melainkan secara sederhana merekam infinitas gerak yang pada akhirnya memunculkan sebuah drama yang seratus kali lebih intens.