Pertobatan Kim Ki Duk

Spring, Summer, Fall, Winter…and Spring
‘Pertobatan Kim Ki Duk’

Spring, Summer, Fall, Winter…and Spring adalah sebuah film yang bersetting jauh dari teknologi dan riuh peradaban, sebuah kuil Budhis yang mengambang di tengah danau, dikelilingi oleh hutan dan pegunungan yang menjulang. Berbeda dengan film-film Kim Ki Duk sebelumnya, kali ini filmnya bernuansa sejuk dan memberi kita sebuah sudut pandang yang multi-perspektif melalui lanskap yang beberapa kali disuguhkan kepada kita menggunakan ektrem long shot untuk menangkap perubahan warna ketika terjadi pergantian musim. Manusia terasa kecil ditengah bentang ruang yang luas. Setiap musim adalah perputaran tahap-tahap kehidupan, seperti spiral, alurnya kembali namun tak pernah malalui jalur yang sama.

Sekalipun secara naratif film ini berkisah tentang kehidupan biksu dalam keseharian mereka di sekitaran kuil yang terpencil, Kim Ki Duk tidak bertujuan filmnya untuk dibaca sebagai teks Budhis dan dia juga menghindari pembacaan buku-buku tentang Budhisme untuk diterapkan dalam teknik produksinya.

Dalam sebuah wawancara dengan Cine 21 pada tahun 2003, Kim menjelaskan bahwa pendekatan atas Budhism dalam film ini adalah pendekatan kultural dan tidak bermaksud untuk melakukan klaim otoritatif atas Budhism sebagai praktik religius. Harapan Kim, film ini menjadi semacam meditasi bagi siapapun untuk berpikir tentang makna hidupnya setelah menonton. “Ketika saya membuat film ini, saya sadar bahwa kehidupan tidak hanya berisi kesedihan, kesengsaraan, namun kehidupan juga merupakan berkah dan juga indah.”

Musim Semi Pertama
Gerbang kayu membuka musim semi pertama, suara deritnya mengantar mata kita pada kuil sekaligus tempat tinggal yang terapung di tengah danau. Dengan cara yang sama pada setiap pergantian musim akan dimulai dengan pembukaan gerbang. Shot berikutnya adalah sebatang pohon tua melatari kuil. Terasa ketenangan (no stirring) sebagai ciri ketujuh dalam estetika Zen Budisme. Setelah beberapa detil alam diperlihatkan, kita diantar menuju ke dalam rumah dimana seorang biksu sedang melakukan ritual. Ruangan itu terbagi dua, di ruang sebelahnya terlihat seorang biksu kecil sedang tidur. Biksu tua membuka pintu dan membangunkan biksu kecil, kemudian beranjak menuju perahu. Batas ruang itu berpintu namun tidak berdinding, pintu nyata tapi dinding terletak dalam pikiran. Dalam film ini hanya ada tiga pintu, gerbang pembuka hamparan danau, pintu rumah dan pintu pemisah ruangan dalam.

Musim semi pertama dalam film ini menjadi musim kanak-kanak mencari kegembiraan. Biksu kecil yang hanya tinggal berdua dengan biksu tua tanpa teman sebaya mencari kesenangan dengan menyiksa binatang-binatang. Pertama dia menangkap seekor ikan kecil, mengikatnya, dan membebaninya dengan sebutir batu kerikil lalu melepaskan kembali ke danau, ikan itu kerepotan berenang menyeret sebutir kerikil. Selanjutnya katak dan ular diperlakukan sama sambil tertawa kegirangan. Semua tingkah lakunya diamati oleh biksu tua. Keesokan harinya, biksu kecilpun dihukum, ketika sedang tidur, tubuhnya diikat dengan sebuah batu, kemudian Biksu kecil itu disuruhnya kembali berperahu untuk mencari ikan, katak dan ular yang dia siksa. Biksu kecil belum boleh melepaskan batu dari tubuhnya sebelum dia berhasil membebaskan binatang-binatang itu. Biksu tua berpesan “…Jika diantara binatang-binatang itu ada yang mati, kamu akan membawa batu itu di dalam hatimu seumur hidup…”. Biksu kecil menangis, tertatih-tatih berjalan menuju perahu. Setelah mencari-cari, didapatinya hanya katak yang selamat, ikan dan ular sudah menjadi korban kekejamannya. Biksu kecil kembali dengan menangis, biksu tua memandangnya dengan simpati, pelajaran hidup telah diberikan dengan cara yang sulit.

Musim Panas
Gerbang musim panas terbuka, biksu kecil telah remaja. Musim ini menjadi musim hawa nafsu ketika seorang ibu menitipkan anak gadisnya kepada biksu tua dalam rangka pemulihan dari penyakit yang tak diketahui. Hari-hari yang dilalui bersama di tempat yang sunyi membuat keduanya saling tergoda. Hingga suatu ketika terjadilah hubungan seksual. Biksu tua mengetahuinya dan memperingatkan biksu remaja, “…Hawa nafsu membangkitkan hasrat untuk memiliki, dan hasrat untuk memiliki membangkitkan kecenderungan untuk membunuh”. Nasihat ini seperti sesuatu yang profetik, terbukti pada bagian berikutnya. Biksu remaja mengaku bersalah dan meminta maaf. Ketika si gadis menyatakan bahwa dia merasa dirinya sudah sembuh, biksu tua berkata “…barangkali seks memang obat yang mujarab…” kemudian dia melanjutkan bahwa ini saatnya untuk pergi. Biksu remaja tak merelakan si gadis pergi. Diam-diam biksu muda menyusulnya, memasukan patung budha kedalam tas selagi biksu tua (pura-pura) tidur, kemudian pergi ditemani seekor ayam.

Musim Gugur
Gerbang musim gugur terbuka, biksu remaja telah dewasa. Secara substansial telah terjadi interval yang cukup panjang. Biksu dewasa pulang, rambutnya dibiarkan tumbuh dan dia adalah seorang buronan yang kabur setelah membunuh istrinya karena cemburu. Tak jelas apakah istrinya itu gadis yang sama di bagian musim panas atau bukan. Entah apa yang terjadi pada dirinya diluar sana tak digambarkan. Yang jelas kepulangannya membawa kebencian, amarah dan frustasi. Ketenangan kuil dan lanskapnyapun terkacaukan. Setelah berhasil menggagalkan upaya biksu dewasa untuk bunuh diri, biksu tua yang sudah semakin tua berupaya untuk membantunya meperoleh kembali kedamaian di hati sang murid dengan menyuruhnya mengukir ayat-ayat Prajnaparamita di lantai kayu dek kuil. Pada saat sedang mengukir , dua orang detektif muncul untuk menangkapnya. Biksu tua memohon pada detektif itu untuk membiarkan sang murid menyelesaikan mengukir ayat-ayat suci itu, para detektif itu menyetujuinya. Dalam proses menyelesaikan ukiran ayat-ayat itu, biksu dewasa akhirnya menemuan kembali ketenangan emosionalnya untuk kemudian secara sukarela menyerahkan diri untuk dibawa oleh para detektif itu.

Setelah keperian mereka, biksu tua melakukan upacara pengorbanan diri diatas perahu, menutupi mata, mulut, telinga dengan kertas bertulisan, cara yang sama dengan sang murid ketika hendak bunuh diri. Biksu tua memasang lilin besar dibawah tumpukan kayu diatas perahu hingga api membesar dan membakar dirinya. Menutupi mata, mulut dan telinga, seperti menutup pintu yang menghubungkan tubuh dengan dénia, dengan demikian  jalan menuju dunia spiritual, menuju kekosongan diri, menuju nirvana menjadi terbuka. Sang guru seperti hendak menebus rasa bersalah atas apa yang menimpa muridnya.

Musim Dingin
Gerbang musim dingin terbuka, danau beku, salju menyelimuti pepohonan. Biksu dewasa terlihat lebih tua. Musim ini menjadi musim pertobatan. Biksu dewasa diperankan oleh Kim Ki Duk sendiri. Secara implisit dia seperti hendak mengatakan bahwa setelah film-film brutal yang sebelumnya dia buat ini waktunya untuk bertobat. Kim kembali ke rumah yang telah sedemikian lama ditinggalkan, menjadi guru baru di kuil yang terlantar, mempraktekkan seni beladiri dan melati tubuh dan rasa di lanskap yang beku.

Hingga suatu hari seorang perempuan misterius datang berkunjung membawa bayi laki-laki untuk ditinggalkan. Tujuannya menjadi jelas ketika dihadapan patung Budha, ia berdoa sambil menangis, kemudian  pada malam harinya dia bunuh diri dengan cara menceburkan diri ke dalam lubang di danau yang beku, lubang yang digali sang biksu sendiri.

Merasa bersalah atas kematian si wanita misterius yang sekaligus mengingatkannya akan wanita yang ia bunuh, Kim menghukum dirinya sendiri dengan cara menggeret batu dengan tali yang diikatkan pada tubuhnya dan membawa patung Budha di tangannya. Kim terpeleset, patung terjatuh namun ia terus berjuang untuk mendaki dengan batu yang memberati tubuhnya. Dalam sekuens ini Kim Ki Duk membekerjakan montage, dia sisipkan secara bergantian shot-shot ikan, katak, ular yang dulu dia siksa. Intercut dengan upayanya untuk mencapai puncak. Ketika sampai di puncak, kuil tampak kecil jauh dibawah sana. Bagian ini menjadi puncak pertobatannya, kitapun disuguhi tatapan mata Budha, ekstrem long shot kuil seakan tertelan oleh keluasan alam.
Musim Semi Kembali
Gerbang membuka musim semi, bayi yang ditinggalkan telah menjadi bocah. Bocah yang juga mencari kegembiraan sebagaimana Kim dulu di musim semi pertama. Namun pada musim semi ini, Kim, sang biksu tua menghilang entah kemana ketika biksu kecil menyiksa ikan, katak dan ular. Tak ada pelajaran hidup, semua berlangsung tanpa intervensi, tanpa larangan, tampa nasihat, tak ada nafsu, tak ada amarah. Musim semi kali ini diakhiri dengan sebuah shot patung Budha tampak belakang, diatas gunung, menjadi latar depan danau dan kuil yang jauh dan kecil, tatapan transendental, seperti hendak mengatakan, biarkan sang Budha sendiri yang mengawasi, tak perlu biksu, tak perlu guru. Musik non-diegetik yang suram mengaksentuasi akhir yang pesimistik, bahwa tak akan ada yang sanggup merubah masyarakat, kita semua telah menyerah.

Pj, Parigi, Januari 2016

Advertisements